"Jangan2 papanya mas Fulan... ahh, tdk mungkin karena kemarin baik2 saja. Tapiii semuanya bisa mungkin. Tapi kira2 kenapa ya? Penyebabnya apa" sungguh, cerewet sekali aku dalam Terlalu banyak cakap dan pertanyaan.
Prakkk!!!!
Kami menabrak motor dengan pengendara seorang gadis berumur 20an. Spontan mas Fulan keluar dan menolong gadis tersebut.
"Duhh, mas Fulan sih tidak hati2.", aku menyalahkannya namun Mas Fulan tetap diam sambil ngecek gadis itu.
"Mbak, kamu gapapa", mas Fulan memegang lengan kirinya. Dengan gesit aku mengambil alih tangan mas Fulan,
Gadis itu meringis kesakitan dengan luka robek di betis kirinya.
"Mas cepetan buka pintu mobilnya," spontan mas Fulan berlari dan membantunya memasukkan gadis itu ke dalam mobil. Orang2 yang melihat kejadian itu merapikan sepeda motor gadis itu. Motornya tidak parah, karena hanya hampir menabrak dari arah kiri sehingga rem gadis itu sangat mendadak karena mobil kami terlalu laju. Untungnya, kami segera berhenti dan memastikan keadaan gadis itu.
"Jadi ini gimana mas? Kita harus ke rumah dulu atau antar mbak ini?", tanyaku sambil memegangi gadis yg kaki kirinya berlumuran darah ini. Kulihat wajahnya masih pucat, mungkin rasa paniknya masih berada di ubun2nya.
"Mas Fulan diam". Hati siapa yang tidak kesal dengan sikap laki2 yang seperti itu?
5 menit berlalu, mobil ini berbelok2 ke arah kiri tepat di tugu pahlawan. Artinya, kami menuju rumahnya.
Tidak disangka, namun pernah terlintas dipikiranku saat mobil itu.melaju dengan sangat cepat.
Rumah mas Fulan ramai, terdengar suara tangis yang1 sangat.nyaring dari arah dalam rumah. Aku tak bisa bicara.
Saat mobil berhenti, kutinggalkan gadis itu dan kuberlari ke dalam rumah mas Fulan.
Innalillahi wa inna ilaiho roojiuun...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar