Aku menyibakkan poni ku, sudah lumayan panjang, rencananya jumat ini akan kugunting supaya sdkit lbh rapi. Kubercermin sekali lg sbelum tidur, hmm msh cantik, seperti umur 18tahun hehe.
Waktu menunjukan pukul 23:15 WIB, kulihat suamiku msh sibuk dg tulisannya, maklum, hobby yg sama dengan istrinya tercinta, hanya saja ia lbh senang menulis tentang kenikmatan hidup, orang yg sangat realistis dan selalu mementingkan kesenangan istrinya. Kutengok anak2 sdh terlelap dlm mimpi indahnya. Aku rasa, ini sdh terlalu larut untuk bicara masalah rencana yg sdang kusimpan rapat dlm benakku. Hamm besok saja lah.
"Blm ngantuk pa? Mama tidur duluan ya," kucium pipi kanan suamiku.
Tanpa melihatku, ia hanya membelai kepalaku saat aku mencium pipi kanannya itu. "Iya nanti biar papa yg matikan lampu"
Orang yg tdk romantis memang sangat jarang mengucapkan selamat tidur,tidur apalagi semenjak kami menikah, katanya" untuk apa diucapkan kalau kamu sdh ada d depan mata disetiap waktu". Yaah, aku sangat mengerti dan tentunya sangat menerima dg baik apa yg menurut nya benar.
Lalu kutarik selimut hingga ke dada, kupejamkan mata agar lelahku hilang ketika fajar menyambut pagiku. Bismillah....
Saat kubuka mata, cahaya putih yg sangat menyilaukan membuat mataku bgtu kaget, kusipitkan seketika. Kuhalangi pandangan mataku dg telapak tangan kanan yg menghadap keluar.
"Cahaya apa ini? ",Batinku..
Tiba2 kudengar tangisan Zahra, "mamamama...huhuhu...hiks hiks hiks"
Kata2nya msh terbata2, baru bisa brkata mama, papa, mamam, tata (kakak), dan nenen.
Kucari sumber suara itu, trdengar bgtu dkat namun aku tak bisa melihatnya selain cahaya yg menyilaukan itu.
Kuucap, laa ilaa ha illallah... cahanya semakin sempit, kulihat samar2 syahid berurai air mata di depanku bersama papanya dan ibu mertuaku. Kulihat byk orang yg sdang menungguiku.
Nafasku yg tak sampai pada diafragma tentunya membuat semua orang menganggapku sekarat.
Benar saja, penyakit yg menggerogotiku hingga 16th ini kini semakin menjadi. Aku selalu mengatakan pada suamiku saat berobat, "semuanya sdh ada yg mengatur, jangan khawatir, semua yg terjadi adl yg terbaik".
Terkadang aku merasa ini menjadi motivasi agar aku tetap hidup, agar aku sukses mjd madrasah terbaik untuk syahid dan zahra.
Terkadang, aku merasa tdk sanggup ketika rasa sakit itu menyerang secara tiba2.
Semua dokter heran dengan kekuatanku selama belasan tahun. 3 bulan sebelum menikah, aku divonis mengidap kanker otak stadium 1. Waktu itu calon suamiku sama sekali tdk tau ttg hal ini. Aku sangat takut untuk bicara, krn keluarga semuanya telah setuju dan tinggal menggelar acara pernikahannya. Aku sangat kebingungan.
Laluu kuputuskan untuk membatalkan semua yg ada pada kesepakatan.
Aku tdk tega melihat keluargakau bersedih atas sakitku dikemudian hari.
"Aku rasa, ini semua salah. Aku harus jujur kalau aku menjalin dg laki2 lain, dan aku lbh mencintai dia dr pd mas Fulan." Bibirku bergetar.
"Maksud km apa?"
"Aku cm tdk ingin mas Fulan akan lbh sakit hati kalau ini aku rahasiakan lbh lama"
Dia diam.
Dan aku tdk melihat wajah kecewa dr calon suamiku itu, justru aku yg kecewa dg sikapnya yg dingin spt itu.
" baiklah klw itu maumu, yg penting dlm sebulan kdepan sy akan ikut sm km kmanapun km pergi"
Aku brfikir sejenak lalu mengiyakan apa yg dia katakan.
Aku berencana akan membohonginya dan memanfaatkan temanku untuk mjd pacar simpanan pura2 ku.
Trnyata mas Fulan lbh pintar dr saya, dia telah tau semua yg terjadi, sungguh dia spt dukun.
Di pagi gerimis yg menyejukkan, mas Fulan datang menemuiku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar