Kamis, 23 Februari 2017

Aku Lanjutkan hidupku, Kamu Lanjutkanlah Hidupmu

Pada akhirnya, janji tinggal lah janji. Kata kata manis hanya pemanis awal seperti pada es jeruk, ketika sari sari habis tersedot, maka tinggal bongkahan es batu yg tawar dan beku.
Aku sempat sedikit merasa melayang krn kalimatmu. "Aku yakin, kamu yg bakal jadi istriku."
"Darimana mas bisa tahu begitu, sedangkan aku tak merasa apa apa." Aku mengelaknya meski sebenarnya dalam hati ada sedikit rasa, sedikit harapan, sedikit kepercayaan, hanya sedikit.
Dan, banyak keraguan dengan semua ini.

Aku takut, kata kata itu muncul bukan karena km mencintaiku, namun krn usiamu yg akan terlewat matang jika tdk segera mengikrarkan akad pernikahan dengan seorang perempuan.
Aku takut, hanya karena orangtuamu menyukaiku, hanya karena ibumu.
Aku takut kamu bukan orang yang baik. Aku takut kamu akan menyakitiku kelak.
Sungguh, lebih banyak keraguan dan ketakutan dalam diriku, sehingga aku tak mungkin meng"iya" kan tawaranmu itu.
Kamu selalu saja menanyaiku," bagaimana dengan tawaranku?", dan aku selalu menjawab dengan jawaban yang sama.

Maaf, aku membohongimu.

Benar, aku memiliki pacar disini. Apakah kamu tau? Aku sungguh berbeda dengan dirimu. Usia yang selisih 12 tahun menurutku bukan selisih yang sedikit, dan aku fikir kamu blm bisa membuatku lbh memiliki kenyamanan dalam hidup.
Aku ingin bersenang senang, menyenangkan orangtua, berprestasi, jalan jalan, dan banyak hal yang kamu tak tahu.
 Aku slengean.
Maaf, aku mengecewakanmu. Aku tak sebaik yang kamu kira.

Namun, aku bersyukur.
Itu artinya kamu tak menyesal karena bukan memilih orang yang salah sepertiku. Aku senang, karena aku tak perlu bersusah payah untuk menjadi pribadi seperti yang kamu inginkan.

Kamu ingat? Terakhir kamu menghubungiku sebelum berita itu?
Ketika aku ulangtahun yang ke 21? Itu 15 bulan yang lalu. Ketika aku ganti DP dengan pacarku, karena dia memberikan kejutan ulangtahun untukku saat pergantian tanggal.
Kamu langsung DC kontak BBM, WA, dan block akun FB ku. Ketika kamu bilang "salam pamit", apakah kamu pikir aku tak memikirkan itu? Kamu kecewa, akupun sama.

Maaf, aku memang salah.

Namun, bukankah kata katamu terlalu manis? Bukankah kata katamu sempat membuatku melayang lalu terjatuh di tepian danau? Sakit. Kamu tak sadar telah menyakitiku.
Hingga akhirnya lebaran tahun lalu, 7 bulan yang lalu, ayahmu sms kata kata lebaran, dan akupun langsung menelfon meski berbeda kartu prabayar. kamu tahu? Aku rindu, sangat rindu.
Lalu kamu menghubungiku, menanyai kabarku, lalu ketika kakakmu meninggal dunia, kamu mengabariku, ibumu menelfonku.
Iya, ibumu memang menganggapku seperti anaknya, anak perempuan nya. Sampaikanlah terimakasihku pada ibumu. Aku pun menyayangi ibumu, dan adik adikmu, juga ayahmu, seperti keluargaku sendiri.

Tahukah? Ketika kamu  beberapa kali datang kerumahku, untuk antar barang milik ibuku, dan waktu ayahku sakit, kau datang menemani, dan kamu menyuruhku pulang. Kamu memberikan sinyal pada orangtuaku.
Meskipun aku mengelak,"tidak ma!". Kamu pun tak pernah tahu bahwa aku pun memiliki senyum untuk kuberikan padamu kelak. Memiliki mimpi, mimpi orangtua yang selama ini mereka torehkan di lembaran2 hidupku. Entahlah, Tuhan berkehendak lain.
Aku tetap bersyukur.

Hingga akhirnya kabar pernikahanmu sampai di telingaku.
Aku mulai kepo dengan akun fb mu.
Hingga aku membuat akun baru dengan nama berbeda, dan dipasang foto foto bersama pacarku.
Apa kamu tahu berapa kali aku stalk dalam sehari pada saat itu? Entahlah, aku tak dapat menghitungnya. Sering.

Dann ketika aku melihat fotomu bersama sang istri di pelaminan, hatiku seperti tergores sedikit, perih.
Harusnya ini tak terjadi.
Harusnya aku biasa biasa saja, tapii hati berkata lain. Ada penyesalan.

Namun, semua sudah jelas jalannya. Keyakinanmu saat itu betul betul salah, keyakinanku yang ternyata benar.

Sekarang, tak ada yang perlu disesali, tinggalkan rasa kecewa dan amarah. Terimalah dengan hati yang tulus. Iya, aku menerimanya.
Aku hanya akan melanjutkan kisahku bersama kekasihku yang (juga) insyaallah menjadi pasangan halalku kelak, aamiin.
Selamat menempuh hidup yang baru, mas. Semoga sakinah mawaddah warahmah allahumma aamiin.
Meskipun ini sudah lama kuucapkan, namun kali ini adalah ucapan tulus dari lubuk hati terdalam.

Untuk mas A.

Mamuju  utara, 18 juli 2018
Edit  EYD.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar