"Cantikmu tak prnah berubah, yg berubah hanya cara berfikirmu"
Aku tdk mngrti apa yg mas Fulan katakan.
"Maksud mas?".
"Sy tdk suka basa basi, sy cm mau ktemu dg Zidan sekarang."
"Hmmm... eumm" aku mulai memutar otak, akan kujawab apa agar semua ini berjalan mulus, tp ide tak kunjung datang. Aku hanya diam tertunduk, kuteteskan lagi air mata.
"Sayang, km tdk perlu berakting spt artis, tanpa akting cantikmu sdh spt artis", dia berusaha meledekku, seakan aku tak memiliki perasaan yg tdk karuan itu. Aku kesal dg gurauannya.
Disapunya air mata dipipiku, diangkatnya daguku mengarah ke wajahnya.
Kupejamkan mata. Aku tdk sanggup utk skedar menatap kedua matanya yg bgtu tulus.
"Kita akan menikah, kankermu pasti sembuh, apa km tdk yakin dg kekuatan Allah? Dengar sy Niah, pernikahan akan dipercepat sebulan lagi, saya kesini untuk ajak km cari cincin dan pakaian pengantin kita."
Aku melongo keheranan, bingung dg perasaan yg kurasa sekarang, antara bahagia, haru, dan yg jelas aku merasa bersalah. Aku bingung, aku ingin bertanya, kenpa? Kenapa bisa? Tapi tak pernah berhasil keluar dr mulutku.
"Aku...",
"Tenang sayang, semuanya sudah kubicarakan dg semuanya. Dan Zidan akan jd panitia di pernikahan kita,hehehe" dia meringis.
Aku speechless, tdk ada yg bisa kukatakan.
Dia dekap aku dalam pelukannya, rasanya semakin berdebar dalam kedamaian.
Aku tdk mngrti apa yg mas Fulan katakan.
"Maksud mas?".
"Sy tdk suka basa basi, sy cm mau ktemu dg Zidan sekarang."
"Hmmm... eumm" aku mulai memutar otak, akan kujawab apa agar semua ini berjalan mulus, tp ide tak kunjung datang. Aku hanya diam tertunduk, kuteteskan lagi air mata.
"Sayang, km tdk perlu berakting spt artis, tanpa akting cantikmu sdh spt artis", dia berusaha meledekku, seakan aku tak memiliki perasaan yg tdk karuan itu. Aku kesal dg gurauannya.
Disapunya air mata dipipiku, diangkatnya daguku mengarah ke wajahnya.
Kupejamkan mata. Aku tdk sanggup utk skedar menatap kedua matanya yg bgtu tulus.
"Kita akan menikah, kankermu pasti sembuh, apa km tdk yakin dg kekuatan Allah? Dengar sy Niah, pernikahan akan dipercepat sebulan lagi, saya kesini untuk ajak km cari cincin dan pakaian pengantin kita."
Aku melongo keheranan, bingung dg perasaan yg kurasa sekarang, antara bahagia, haru, dan yg jelas aku merasa bersalah. Aku bingung, aku ingin bertanya, kenpa? Kenapa bisa? Tapi tak pernah berhasil keluar dr mulutku.
"Aku...",
"Tenang sayang, semuanya sudah kubicarakan dg semuanya. Dan Zidan akan jd panitia di pernikahan kita,hehehe" dia meringis.
Aku speechless, tdk ada yg bisa kukatakan.
Dia dekap aku dalam pelukannya, rasanya semakin berdebar dalam kedamaian.
Mataku tertuju pd amplop biru langit tergeletan d depan pintu, aku malu ingin memungutnya lalu membuangnya.
Gerakanku lambat, mas fulan lbh dlu mendapatknnya.
"Hmm surat untuk siapa ini?"
"Mas, jangan mas, itu pintaku" aku mencoba menghalanginya, namun gagal lagi..
Dia membacanya, lalu trtawa terbahak2.
"Hahahhah, aktingmu nyaris berhasil Niah, tp sayangnya km bermain dg orang yg salah, hahaha"
"Maaas, bukannya nyenengin malah ngledek gt, udah siniii"
Aku berusaha meraih surat itu, tp mas fulan trlalu tinggi drku.
Aku terus berusaha mengambil hak ku dr tangannya, sampai2 aku menggantung d pundaknya, sebisaku harus mendapatkannya.
Gerakanku lambat, mas fulan lbh dlu mendapatknnya.
"Hmm surat untuk siapa ini?"
"Mas, jangan mas, itu pintaku" aku mencoba menghalanginya, namun gagal lagi..
Dia membacanya, lalu trtawa terbahak2.
"Hahahhah, aktingmu nyaris berhasil Niah, tp sayangnya km bermain dg orang yg salah, hahaha"
"Maaas, bukannya nyenengin malah ngledek gt, udah siniii"
Aku berusaha meraih surat itu, tp mas fulan trlalu tinggi drku.
Aku terus berusaha mengambil hak ku dr tangannya, sampai2 aku menggantung d pundaknya, sebisaku harus mendapatkannya.
Akhirnya dia memberikan surat itu pdku, meskipun beberapa menit berebut dlm suasana bermain.
Dia selalu saja memghiburku.
Tdk prnah rerbayang akan mjd sedekat ini.
Dia selalu saja memghiburku.
Tdk prnah rerbayang akan mjd sedekat ini.
Disimpan kembali baju2 dalam koperku, lalu mas fulan tarik tanganku," ayo cepat mumpung blm trlalu panas".
Tujuan pertama kami ke toko silver.
Tujuan pertama kami ke toko silver.
Ditengah perjalanan hpnya berdering, ibunya..
"Haloo... lan, fulan... papamu...nak...."
"Halo bu, haloo...."
Baterainya habis.
"Haloo... lan, fulan... papamu...nak...."
"Halo bu, haloo...."
Baterainya habis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar