Kamis, 16 Februari 2017

Melawan Maut Episode 02

Lelaki satu ini memang tdk byk bicara, namun tindakan yg ia ambil seolah tdk ada yg keliru. Dia selalu perhatikan gerak gerik ku tanpa aku menyadarinya.
Ada keteledoranku saat aku pergi check up ke dokter langgananku, dia mengikutiku namun aku melarangnya untuk masuk ke dalam dg dalil "bukan mahram, jangan ikut, nanti jd fitnah" biasanya, aku malah minta ditemani. Mungkin dia mulai curiga dg tingkah anehku.
Keesokan harinya ia menemui dokter itu dan mencari tau ke dokter rujukan sesuai petunjuk yg sdh diberitahu.Di pagi gerimis yg menyejukkan, aku bersiap ke airport. Rencananya aku akan pulang ke rumah untuk menghabiskan sisa waktu yg ada bersama ibu dan ayahku.
Entah kenapa, hati ini kosong tak ada kesedihan, rasanya hatiku mati lbh dulu daripada ragaku.
Aku sama sekali tak berniat untuk melakukan kemoterapi spt yg disarankan dokter. Aku pun sdh tdk merasakan sakit di bagian kepala, lbh baik dari sebelum melakukan pemeriksaan. Aneh.
Apartemen kutinggalkan, hanya ada sepucuk surat yg kuselipkan dibawah pintu. Aku tau, mas Fulan pasti akan mencariku.
Dear mas fulan...
Sebelum Niah bicara byk, niah mohon maaf yg setulus2nya, sungguh nia perempuan yg tdk tau diri. Tapi, semua ini kulakukan utk kebaikan semuanya. Aku tdk akn biarkan mas fulan merasakan sakit hati berkepanjangan lantaran mas fulan mencintai orang yg tdk mencintaimu. Iya, benar sekali, aku sekarang telah pergi bersama orang pilihan niah sendiri. Zidan.
Semoga mas fulan bahagia selalu.
Terimakasih untuk semua yg mas berikan selama ini, barakallah... allah akan membalasnya dg yg lbh baik
With love,
Niah.
Kali ini kujatuhkan air mata, rasanya dada ini mau meledak.
Bagaimana tidak, aku telah membohongi diriku sendiri dan mengatasnamakan kebaikan. Padahal aku tau, ini bukan yg terbaik. Kutersimpuh di depan pintu bersama koper dan tas dipundakku.
Tangisku meledak....
5 menit berlalu, kulihat waktu check in masih ada 1 jam lagi, aku kmbali masuk k apartemen dan kulihat wajahku, pucat pasi.
Kuambil alat make up, kurias dan menyulap wajahku mjd segar kembali dg eyeliner hitam, serta blush on dan lipstik warna pink kesukaanku. Kusenangkan hatiku.
Kutata kembali rambut sebahuku, dan poni menyamping sampai pelipis kanan." Tersenyumlah" gumamku dalam hati. Kusenyumi diriku sendiri di cermin.
Aku bergegas menuju airport, waktunya berjalan bgtu cepat.
Baru akan keluar dr pintu, aku terperanjat dg kehadiran sosok lelaki yg msh memakai celana bola, kaos oblong dan sandal coklat andalan. Tangan kanannya menenteng bubur ayam kesukaanku. Matanya berkaca2 melihat keadaan ini, lemas badanku.
Mas fulan datang lbh cepat dr yg kupikirkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar