Mas Fulan berlari meraih papanya, "innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Papa kenapa tidak tunggu Fulan di pelaminan?". Air matanya menetes, aku hanya bisa tertunduk tak ada yang bisa aku katakan.
Mas Fulan harus dibiarkan meluapkan rasa kehilangan atas papanya.
Semua orang sibuk mempersiapkan pemakaman, dan astaga! Cewek tadi!
Aku bergegas ke mobil, dan betapa kagetnya ternyata dia sudah tidak ada disana. Mataku mencari di setiap sudut, berputar dari arah kiri ke kanan. Aku masih belum menemukannya.
"Tidak mungkin dia kabur, lagian apa untungnya coba? Huft bikin repot aja tuh orang!".
Akhirnya aku masuk ke dalam dan mungkin cewek yang kutabrak tadi sudah pulang ke rumahnya naik angkot, atau sudah dijemput oleh keluarganya.
Ah sudahlah, lupakan saja!
Aku masuk ke dalam rumah dan membantu persiapan untuk pemakaman. Isak tangis masih terdengar, sesenggukan dari mama mas Fulan, masih terdengar begitu mendayu.
Bendera kuning dan kain putih mulai terpasang dan dikibarkan tanda berduka. Akupun meneteskan air mata.
Sungguh, kematian tidak ada yang bisa menolak.
"Kanker ini juga akan membunuhku! Rasanya ingin segera diakhiri saja. Jika pada akhirnya akan mati, kenapa harus menunggu begitu lama? Kenapa aku harus tahu di stadium satu ini? Terlalu menyakitkan!
Tangisku meledak. Menangisi diri sendiri yang sekarat.
***
Pemakaman telah selesai, HP ku berdering, namun mataku tiba-tiba tertuju pada seorang perempuan mengenakan jeans berpasangan dengan blus hijau dan kepalanya dibalut selendang hitam. Jalannya agak pincang.
"Cewek itu!".
Aku diam sejenak untuk menyelidiki siapa dia sebenarnya! Pasalnya, dia berjalan beriringan dengan Riza, adik perempuan mas Fulan.
Begitu mereka mendekat, aku langsung menodongnya dengan pertanyaan.
"Riza kenal sama...",
"Vani!", belum selesai aku bertanya Riza sudah mengenalkannya padaku.
"Nia," aku ulurkan tanganku dan kulihat dengan tertunduk dia mengulurkan tangannya juga.
"Jadi tadi kamu langsung masuk juga yah, Van? Aduuh kok bisa kebetulan gitu yah?", aku coba mencairkan suasana. Namun sepertinya usahaku sia-sia. Mereka masih dengan ekspresi yang datar dan nampak masih ada kesedihan.
Satu jam waktu berlalu.
Dan kulihat Vani menatap kosong pada pintu pagar yang dibiarkan terbuka.
"Vani." Aku menyapanya dengan lembut.
Lalu dia menoleh dengan senyumannya yang manis.
"Emmmm, rumah kamu dimana?", aku memulai basa basi.
"Kalau sekarang rumahku di semarang mbak, karena ibu saya menikah lagi dengan orang sana".
"Trus kok kamu bisa disini? Dan kenal Riza?", aku mengenyeritkan keningku dan menopang dagu.
Dia menghela nafas.
"Mbak, sebenarnya gak enak banget aku ngomong di suasana duka ini. Tapi mbak harus tahu."
Aku berdebar.
"Kenapa Van?" Tanyaku penasaran.
"Sebelumnya aku tanya dulu, mbak Nia siapanya mas Fulan?"
"Tunggu dulu, inii maksudnya gimana yah? Bisa langsung aja?"
"Nia, kamu gak mau pulang?". Belum dijawab pertanyaanku, mas Fulan menyerbuku secara tiba-tiba."
"Ayo, mumpung belum petang, nanti aku tunggui trus nanti kesini lagi."
Kami semua saling diam dan aku beranjak pergi.
Hatiku berkecamuk, tapi takut untuk menanyakan pada mas Fulan. Mungkin dia keluarganya mas Fulan, mungkin adiknya, ahh siapa dia ini?
Kulihat sekali lagi wajah Vani. Dia juga menatapku, namun kali ini tatapannya penuh kebencian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar