Wanita memang makhluk yang #memesona, right?
Menurut Bang Haji Rhoma Irama, Wanita adalah perhiasan dunia. Tapi kata the changcuters, wanita adalah racun dunia. Saya jadi bingung nih, yang benar yang mana?
Tapi kalau dipikir kembali, kedua kalimat menurut orang yang berbeda tersebut semuanya benar.
Tahu gak, bahwa dalam ajaran Islam itu penghuni neraka terbanyak adalah kaum wanita. Dan, sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah. Jadi, wanita adalah makhluk yang cukup berpengaruh dalam peradaban dunia ya? Woww amazing!
Menurut saya wanita selalu terlihat #memesona di kalangan beberapa kaum, karena memang setiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Dan saya sangat menghargai itu.
Contoh, menurut seorang pemuda wanita yang enerjik dan suka berpetualang adalah wanita yang #memesona. Namun menurut seorang pemuda lain, wanita yang lebih senang dirumah merupakan wanita yang #memesona. Hmm sangat berbeda.
Baik, menurut saya wanita #memesona adalah wanita dengan kriteria seperti ini:
1. Mandiri
Jika kita ditakdirkan untuk dipimpin oleh seorang lelaki, itu bukan berarti kita hanya menurut dengan perintah saja. Era yang sangat modern ini dan dengan teknologi canggih, bisa dimanfaatkan untuk berbisnis. Bisa produksi barang/makanan yang memungkinkan, jadi reseller, atau bahkan berbisnis tulisan.
Dengan demikian, selain pengalaman, karya dan kesibukan, kita jadi memiliki penghasilan tambahan. Bahkan jika kita serius menggelutinya, ini bisa menjadi ladang rejeki yang luas untuk keluarga kita. Karena #memesona itu adalah wanita yang mandiri.
2. Sederhana
Penampilan dan gestur tubuh seseorang sangat berpengaruh dengan kepribadiannya. Tak terkecuali wanita. Berpenampilan sederhana membuat seorang wanita tampak lebih #memesona. Berbeda halnya ketika seorang wanita mengenakan pakaian yang glamour dan make up yang terlalu mencolok. Penampilan yang dimaksud disini adalah keseharian seseorang. Dan hal ini erat kaitannya dengan gaya hidup. Semakin murah biaya perawatan seorang wanita, maka semakin terlihat #memesona .
3. Supel
Ada yang bilang, supel adalah bawaan seseorang dari kecil. Namun, hal ini sebenarnya bisa kita latih. Wanita yang cepat akrab dengan siapa saja dan enak berkomunikasi adalah wanita yang #memesona. Ketika dia berbicara tidak kaku, bisa berbaur dengan semua kalangan dan tentunya tidak fanatik. Wanita jenis ini biasanya memiliki banyak teman dari berbagai kalangan dan tentunya sangat #memesona.
4. Murah Hati
Memberi kepada orang yang pelit dan berbuat baik pada yang pernah jahat pada kita adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Namun ini adalah nilai plus. Terkadang kita masih merasa kekurangan untuk sekedar membantu orang yang sedang kesusahan, namun jika kita memiliki kemurahan hati maka dengan sangat enteng kita akan membantunya. Hatinya tidak akan tenang jika seseorang masih dalam kesulitan sementara kita sebenarnya bisa membantunya. Toh apa yang kita berikan kelak akan Allah SWT gantikan bahkan dengan kualitas serta kuantitas yang lebih. Jika seorang wanita mampu melakukan ini tentu mereka adalah wanita yang #memesona.
5. Taat
Taat disini merupakan jenis kepatuhan dalam berbagai aspek. Meskipun ketaatan terhadap agama tidak bisa kita lihat secara nyata, namun kita bisa menelaah bagaimana keseharian seseorang terutama seorang wanita. Karena kita sedang bahas mengenai wanita #memesona. Wanita yang taat tentu tidak memliki masalah dengan hukum , baik di negara, adat, ataupun perusahaan jika ia seorang karyawati.
Dalam ajaran agama islam ada yang namanya hablumminallah (hubungan dengan Allah SWT)dan hablumminannaas (hubungan dengan manusia). Dan dalam hal ini kita hanya bisa menilai hablumminannaas saja, untuk hablumminallah hanya dia dan sang Maha Pencipta yang tahu. Dan wanita yang taat di semua aspek adalah wanita yang juga sangat #memesona.
Jadi, wanita #memesona menurut anda wanita yang seperti apa?
Dan apakah anda termasuk wanita yang #memesona?
Ladies, pancarkan pesonamu!
Sabtu, 25 Maret 2017
Senin, 13 Maret 2017
Melawan Maut Episode 05
Terlihat mama mas Fulan sedang dipapah oleh kak Fitrah, kakak laki-laki mas Fulan. Beliau sangat shok dengan kepergian suaminya yang mendadak itu. Memang, jantungnya agak bermasalah semenjak 10 tahun belakangan.
Mas Fulan berlari meraih papanya, "innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Papa kenapa tidak tunggu Fulan di pelaminan?". Air matanya menetes, aku hanya bisa tertunduk tak ada yang bisa aku katakan.
Mas Fulan harus dibiarkan meluapkan rasa kehilangan atas papanya.
Semua orang sibuk mempersiapkan pemakaman, dan astaga! Cewek tadi!
Aku bergegas ke mobil, dan betapa kagetnya ternyata dia sudah tidak ada disana. Mataku mencari di setiap sudut, berputar dari arah kiri ke kanan. Aku masih belum menemukannya.
"Tidak mungkin dia kabur, lagian apa untungnya coba? Huft bikin repot aja tuh orang!".
Akhirnya aku masuk ke dalam dan mungkin cewek yang kutabrak tadi sudah pulang ke rumahnya naik angkot, atau sudah dijemput oleh keluarganya.
Ah sudahlah, lupakan saja!
Aku masuk ke dalam rumah dan membantu persiapan untuk pemakaman. Isak tangis masih terdengar, sesenggukan dari mama mas Fulan, masih terdengar begitu mendayu.
Bendera kuning dan kain putih mulai terpasang dan dikibarkan tanda berduka. Akupun meneteskan air mata.
Sungguh, kematian tidak ada yang bisa menolak.
"Kanker ini juga akan membunuhku! Rasanya ingin segera diakhiri saja. Jika pada akhirnya akan mati, kenapa harus menunggu begitu lama? Kenapa aku harus tahu di stadium satu ini? Terlalu menyakitkan!
Tangisku meledak. Menangisi diri sendiri yang sekarat.
***
Pemakaman telah selesai, HP ku berdering, namun mataku tiba-tiba tertuju pada seorang perempuan mengenakan jeans berpasangan dengan blus hijau dan kepalanya dibalut selendang hitam. Jalannya agak pincang.
"Cewek itu!".
Aku diam sejenak untuk menyelidiki siapa dia sebenarnya! Pasalnya, dia berjalan beriringan dengan Riza, adik perempuan mas Fulan.
Begitu mereka mendekat, aku langsung menodongnya dengan pertanyaan.
"Riza kenal sama...",
"Vani!", belum selesai aku bertanya Riza sudah mengenalkannya padaku.
"Nia," aku ulurkan tanganku dan kulihat dengan tertunduk dia mengulurkan tangannya juga.
"Jadi tadi kamu langsung masuk juga yah, Van? Aduuh kok bisa kebetulan gitu yah?", aku coba mencairkan suasana. Namun sepertinya usahaku sia-sia. Mereka masih dengan ekspresi yang datar dan nampak masih ada kesedihan.
Satu jam waktu berlalu.
Dan kulihat Vani menatap kosong pada pintu pagar yang dibiarkan terbuka.
"Vani." Aku menyapanya dengan lembut.
Lalu dia menoleh dengan senyumannya yang manis.
"Emmmm, rumah kamu dimana?", aku memulai basa basi.
"Kalau sekarang rumahku di semarang mbak, karena ibu saya menikah lagi dengan orang sana".
"Trus kok kamu bisa disini? Dan kenal Riza?", aku mengenyeritkan keningku dan menopang dagu.
Dia menghela nafas.
"Mbak, sebenarnya gak enak banget aku ngomong di suasana duka ini. Tapi mbak harus tahu."
Aku berdebar.
"Kenapa Van?" Tanyaku penasaran.
"Sebelumnya aku tanya dulu, mbak Nia siapanya mas Fulan?"
"Tunggu dulu, inii maksudnya gimana yah? Bisa langsung aja?"
"Nia, kamu gak mau pulang?". Belum dijawab pertanyaanku, mas Fulan menyerbuku secara tiba-tiba."
"Ayo, mumpung belum petang, nanti aku tunggui trus nanti kesini lagi."
Kami semua saling diam dan aku beranjak pergi.
Hatiku berkecamuk, tapi takut untuk menanyakan pada mas Fulan. Mungkin dia keluarganya mas Fulan, mungkin adiknya, ahh siapa dia ini?
Kulihat sekali lagi wajah Vani. Dia juga menatapku, namun kali ini tatapannya penuh kebencian.
Mas Fulan berlari meraih papanya, "innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Papa kenapa tidak tunggu Fulan di pelaminan?". Air matanya menetes, aku hanya bisa tertunduk tak ada yang bisa aku katakan.
Mas Fulan harus dibiarkan meluapkan rasa kehilangan atas papanya.
Semua orang sibuk mempersiapkan pemakaman, dan astaga! Cewek tadi!
Aku bergegas ke mobil, dan betapa kagetnya ternyata dia sudah tidak ada disana. Mataku mencari di setiap sudut, berputar dari arah kiri ke kanan. Aku masih belum menemukannya.
"Tidak mungkin dia kabur, lagian apa untungnya coba? Huft bikin repot aja tuh orang!".
Akhirnya aku masuk ke dalam dan mungkin cewek yang kutabrak tadi sudah pulang ke rumahnya naik angkot, atau sudah dijemput oleh keluarganya.
Ah sudahlah, lupakan saja!
Aku masuk ke dalam rumah dan membantu persiapan untuk pemakaman. Isak tangis masih terdengar, sesenggukan dari mama mas Fulan, masih terdengar begitu mendayu.
Bendera kuning dan kain putih mulai terpasang dan dikibarkan tanda berduka. Akupun meneteskan air mata.
Sungguh, kematian tidak ada yang bisa menolak.
"Kanker ini juga akan membunuhku! Rasanya ingin segera diakhiri saja. Jika pada akhirnya akan mati, kenapa harus menunggu begitu lama? Kenapa aku harus tahu di stadium satu ini? Terlalu menyakitkan!
Tangisku meledak. Menangisi diri sendiri yang sekarat.
***
Pemakaman telah selesai, HP ku berdering, namun mataku tiba-tiba tertuju pada seorang perempuan mengenakan jeans berpasangan dengan blus hijau dan kepalanya dibalut selendang hitam. Jalannya agak pincang.
"Cewek itu!".
Aku diam sejenak untuk menyelidiki siapa dia sebenarnya! Pasalnya, dia berjalan beriringan dengan Riza, adik perempuan mas Fulan.
Begitu mereka mendekat, aku langsung menodongnya dengan pertanyaan.
"Riza kenal sama...",
"Vani!", belum selesai aku bertanya Riza sudah mengenalkannya padaku.
"Nia," aku ulurkan tanganku dan kulihat dengan tertunduk dia mengulurkan tangannya juga.
"Jadi tadi kamu langsung masuk juga yah, Van? Aduuh kok bisa kebetulan gitu yah?", aku coba mencairkan suasana. Namun sepertinya usahaku sia-sia. Mereka masih dengan ekspresi yang datar dan nampak masih ada kesedihan.
Satu jam waktu berlalu.
Dan kulihat Vani menatap kosong pada pintu pagar yang dibiarkan terbuka.
"Vani." Aku menyapanya dengan lembut.
Lalu dia menoleh dengan senyumannya yang manis.
"Emmmm, rumah kamu dimana?", aku memulai basa basi.
"Kalau sekarang rumahku di semarang mbak, karena ibu saya menikah lagi dengan orang sana".
"Trus kok kamu bisa disini? Dan kenal Riza?", aku mengenyeritkan keningku dan menopang dagu.
Dia menghela nafas.
"Mbak, sebenarnya gak enak banget aku ngomong di suasana duka ini. Tapi mbak harus tahu."
Aku berdebar.
"Kenapa Van?" Tanyaku penasaran.
"Sebelumnya aku tanya dulu, mbak Nia siapanya mas Fulan?"
"Tunggu dulu, inii maksudnya gimana yah? Bisa langsung aja?"
"Nia, kamu gak mau pulang?". Belum dijawab pertanyaanku, mas Fulan menyerbuku secara tiba-tiba."
"Ayo, mumpung belum petang, nanti aku tunggui trus nanti kesini lagi."
Kami semua saling diam dan aku beranjak pergi.
Hatiku berkecamuk, tapi takut untuk menanyakan pada mas Fulan. Mungkin dia keluarganya mas Fulan, mungkin adiknya, ahh siapa dia ini?
Kulihat sekali lagi wajah Vani. Dia juga menatapku, namun kali ini tatapannya penuh kebencian.
Jumat, 10 Maret 2017
Nikmatnya jadi Perempuan
Jadi perempuan itu tidak gampang. Apalagi perawan. Harus sangat berhati-hati dalam pergaulan, apalagi pacaran. Salah sikap sedikit saja bisa berantakan. Keperawanan jadi ancaman.
Jika putus, yang terlihat jelek tentu perempuan. Bisa di cap sebagai "barang bekas".
Hati-hatinya perempuan berbeda dengan lelaki. Perempuan memiliki titik lemah yang lebih banyak daripada lelaki.
Besarnya kelemahan juga lebih banyak daripada lelaki. Namun kekuatan hati terletak pada hati perempuan.
Nikmatnya jadi perempuan.
Setelah menikah harus mengabdi pada suami, meski harus berpisah dengan orangtuanya. Begitulah kodratnya. Disini hati perempuan sangat diuji untuk kekuatannya. Meninggalkan orangtua bahkan kampung halaman demi lelaki yang baru dikenalnya. Inilah pengorbanan pertama seorang perempuan.
Lalu ketika perempuan mengandung, 9 bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk membawa bayi dalam tubuh. Tidak ringan ketika perempuan harus kesana kemari dengan beban besar dalam perutnya.
Kesakitan yang berbeda dirasakan perempuan. Hanya perempuan hamil yang tahu.
Nikmatnya jadi perempuan.
Jika orang membawa beras 1 ton, maka dia bisa menyicilnya berkali-kali, namun perempuan melahirkan harus membawa beban 1 ton dengan satu kali dorongan, itu ibaratnya. Sakit bukan? Hanya perempuan melahirkan yang tahu.
Nikmatnya jadi perempuan.
Anak yang lahir disusui oleh perempuan, oleh ibundanya. Belum lagi jika si kecil gigit-gigit puting, hanya perempuan menyusui yang tahu rasanya.
Ketika sang anak rewel dan tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah, hanya ibu rumah tangga yang tahu tasanya.
Nikmatnya jadi perempuan.
Namun, kadang lelaki menganggap perempuan itu cengeng. Perempuan itu lemah. Perempuan itu hanya butuh perlindungan.
Itu salah besar!
Ketika perempuan menangis, itu hanyalah basuhan luka yang membuat hatinya bersih kembali. Ketika perempuan banyak bicara, itulah kodratnya agar anak-anak dan suami bisa dipastikan baik-baik sauja.
Perempuan itu kuat. Perempuan itu hebat.
Perempuan itu istimewa.
Mamuju utara,10 maret 2017
Rabu, 08 Maret 2017
Rindu Bukan Ingin Bertemu Namun Ingin Selalu Bersama
Aku rindu...
Aku rindu setiap tutur katamu, yang halus dan yang kasar.
Aku rindu tatapanmu, tatapan kasih sayang dan tatapan datarmu.
Aku rindu didekatmu.
Rinduku bukan ingin bertemu, namun ingin bersanding disetiap waktu.
Namun.... tak bisa kupaksakan takdir untuk menggerakkan setiap hati.
Aku tak bisa memaksakan alam untuk membawamu kepadaku. Aku tak bisa.
Aku hanya berdoa agar hatimu, digerakkan dan bergerak menyatu denganku. Bukan lagi kau, bukan lagi aku. Tapi kita, dan kita akan menyebut "kami".
Perempuan ataupun laki-laki akan mengatakan seperti ini ketika hatinya merindukan seorang kekasih.
Ketika seseorang menunggu kepastian yang belum tentu pasti. Dan dia berada diambang dua pintu. Untuk bersatu dengannya atau bersatu dengan orang lain.
Bukan hal mustahil jika keinginan berbalik dengan kenyataan. Karena kita memiliki Yang Maha Kuasa. Namun ketika hati mulai yakin, maka hendaknya mempercepat apa yang sudah menjadi keyakinanya.
Bukankah hal baik akan lebih baik jika ditambah dengan kebaikan lagi?
Rindu adalah perasaan ingin berada berdampingan. Melihat wajahnya, dan menggenggam tangannya. Bukankah itu keinginan setiap orang yang rindu? Rindu adalah keinginan untuk memeluknya, mendekap erat dan membelai rambutnya. Bukankah itu kerinduan yang dimaksudkan?
Rindu adalah penyiksaan jiwa yang dirasakan oleh seseorang. Rindu adalah gangguan dalam ketenangan, karena setiap kali ingin melakukan sesuatu, rindu memporak porandakan apa yang sedang kita lakukan.
Tidak, kita pun bisa menaklukannya dengan melakukan hal-hal yang membuat imajinasi kita melayang jauh. Melakukan hobby dan bergaul bersama teman-teman agar rasa rindu bisa ditutupi dengan itu semua.
Namun jangan pernah sekalipun untuk menghindari komunikasi, karena setiap hati yang tak tenang maka akan Membangkitkan kemarahan, emosi, serta hati yang berburuk sangka dan mulut yang berbicara tak semestinya.
Jagalah hati dan mulutmu agar semua yang baik semakin baik.
Aku rindu setiap tutur katamu, yang halus dan yang kasar.
Aku rindu tatapanmu, tatapan kasih sayang dan tatapan datarmu.
Aku rindu didekatmu.
Rinduku bukan ingin bertemu, namun ingin bersanding disetiap waktu.
Namun.... tak bisa kupaksakan takdir untuk menggerakkan setiap hati.
Aku tak bisa memaksakan alam untuk membawamu kepadaku. Aku tak bisa.
Aku hanya berdoa agar hatimu, digerakkan dan bergerak menyatu denganku. Bukan lagi kau, bukan lagi aku. Tapi kita, dan kita akan menyebut "kami".
Perempuan ataupun laki-laki akan mengatakan seperti ini ketika hatinya merindukan seorang kekasih.
Ketika seseorang menunggu kepastian yang belum tentu pasti. Dan dia berada diambang dua pintu. Untuk bersatu dengannya atau bersatu dengan orang lain.
Bukan hal mustahil jika keinginan berbalik dengan kenyataan. Karena kita memiliki Yang Maha Kuasa. Namun ketika hati mulai yakin, maka hendaknya mempercepat apa yang sudah menjadi keyakinanya.
Bukankah hal baik akan lebih baik jika ditambah dengan kebaikan lagi?
Rindu adalah perasaan ingin berada berdampingan. Melihat wajahnya, dan menggenggam tangannya. Bukankah itu keinginan setiap orang yang rindu? Rindu adalah keinginan untuk memeluknya, mendekap erat dan membelai rambutnya. Bukankah itu kerinduan yang dimaksudkan?
Rindu adalah penyiksaan jiwa yang dirasakan oleh seseorang. Rindu adalah gangguan dalam ketenangan, karena setiap kali ingin melakukan sesuatu, rindu memporak porandakan apa yang sedang kita lakukan.
Tidak, kita pun bisa menaklukannya dengan melakukan hal-hal yang membuat imajinasi kita melayang jauh. Melakukan hobby dan bergaul bersama teman-teman agar rasa rindu bisa ditutupi dengan itu semua.
Namun jangan pernah sekalipun untuk menghindari komunikasi, karena setiap hati yang tak tenang maka akan Membangkitkan kemarahan, emosi, serta hati yang berburuk sangka dan mulut yang berbicara tak semestinya.
Jagalah hati dan mulutmu agar semua yang baik semakin baik.
Selasa, 07 Maret 2017
4 Alasan Memilih Popok Kain
Dewasa ini anak usia 0 sampai 3 tahun banyak dipakaikan popok instan. Popok yang satu kali pakai, dan bisa menampung air kencing sampai dengan berat 4 kg. Wowww hebat ya?
Hal inilah yang membuat orangtua dan juga pengasuh merasa dimudahkan dengan adanya popok1 demikian. Namun apakah hal itu tidak ada dampak buruknya? Ya, tentu saja ada. Selain boros, untuk kesehatan dan mental anak juga kurang baik.
Maka beralihlah ke popok kain saja, karena banyak manfaatnya. Diantaranya adalah :
1. Lebih Hemat
Emak pasti akan membandingkan harganya bukan? Di sini Emak bisa lihat sendiri perbedaan harganya. Jika Emak menggunakan popok instan, maka popok ini akan satu kali pakai dan langsung dibuang. Berbeda ketika Emak menggunakan popok kain. Bisa dipakai berkali-kali tanpa membuangnya.
2. Lebih higinis
Tahukah Emak? Popok instan yang menampung beberapa kucuran air kencing sang anak dan mengendap beberapa waktu, maka bakteri banyak menempel di kulit anak Emak. Berbeda halnya dengan popok kain. Ini akan langsung dibersihkan dan tidak khawatir akan bakteri yang menempel pada tubuh bayi.
3. Melatih Anak untuk Lebih Bersih
Jika anak diajarkan kebersihan sejak dini, maka dia akan lebih tahu bagaimana menjaga kebersihan diri dan juga lingkungannya kelak saat besar nanti. Berbeda ketika Emak memakaikan popok instan pada diri anak, nantinya dia akan menggampangkan segala sesuatu. Karena terbiasa dengan kencing dimana pun dia mau, tanpa harus ke kamar mandi dan membuka celana.
4. Melatih Kepekaan Anak
Dengan memakaikan popok alami pada anak, maka akan membantu Emak, dalam mengajarkan anak untuk peka terhadap hasrat dalam dirinya, seperti hasrat ketika anak ingin "pipis". Meskipun awalnya masih kencing di celana, pasti lama-lama buah hati Emak akan tahu bagaimana caranya membuka celana agar yang dipakainya tidak basah.
Jadi, popok apa yang Emak pakaikan pada anak saat ini?
Hal inilah yang membuat orangtua dan juga pengasuh merasa dimudahkan dengan adanya popok1 demikian. Namun apakah hal itu tidak ada dampak buruknya? Ya, tentu saja ada. Selain boros, untuk kesehatan dan mental anak juga kurang baik.
Maka beralihlah ke popok kain saja, karena banyak manfaatnya. Diantaranya adalah :
1. Lebih Hemat
Emak pasti akan membandingkan harganya bukan? Di sini Emak bisa lihat sendiri perbedaan harganya. Jika Emak menggunakan popok instan, maka popok ini akan satu kali pakai dan langsung dibuang. Berbeda ketika Emak menggunakan popok kain. Bisa dipakai berkali-kali tanpa membuangnya.
2. Lebih higinis
Tahukah Emak? Popok instan yang menampung beberapa kucuran air kencing sang anak dan mengendap beberapa waktu, maka bakteri banyak menempel di kulit anak Emak. Berbeda halnya dengan popok kain. Ini akan langsung dibersihkan dan tidak khawatir akan bakteri yang menempel pada tubuh bayi.
3. Melatih Anak untuk Lebih Bersih
Jika anak diajarkan kebersihan sejak dini, maka dia akan lebih tahu bagaimana menjaga kebersihan diri dan juga lingkungannya kelak saat besar nanti. Berbeda ketika Emak memakaikan popok instan pada diri anak, nantinya dia akan menggampangkan segala sesuatu. Karena terbiasa dengan kencing dimana pun dia mau, tanpa harus ke kamar mandi dan membuka celana.
4. Melatih Kepekaan Anak
Dengan memakaikan popok alami pada anak, maka akan membantu Emak, dalam mengajarkan anak untuk peka terhadap hasrat dalam dirinya, seperti hasrat ketika anak ingin "pipis". Meskipun awalnya masih kencing di celana, pasti lama-lama buah hati Emak akan tahu bagaimana caranya membuka celana agar yang dipakainya tidak basah.
Jadi, popok apa yang Emak pakaikan pada anak saat ini?
Kamis, 02 Maret 2017
Cara Cepat Naik Jabatan
Sebelum saya bahas tentang naik jabatan, saya mau tahu dulu tujuan seseorang dalam bekerja.
4. Supel
Menurut sebagian orang supel adalah sifat seseorang dan tidak bisa dipaksakan. Memang benar, namun sifat supel ini bisa dilatih. Hilangkan rasa takut, minder, malu, dsb.
Mulailah dengan bersama teman terlebih dahulu, maka selanjutnya kita akan nyaman berkomunikasi dengan siapa saja meski baru saja bertemu.
Jadi, apakah anda sudah siap karir anda melejit?
Kalau mau cari uang, yes banget lah ya karena itu kan memang tujuan utamanya. Tapi apakah hanya sekedar ingin mendapatkan uang? Saya rasa tidak ya..
Ada beberapa alasan dan motivasi seseorang kenapa dia bekerja. Selain untuk mendapatkan materi, pengalaman dan kenaikan jabatan (karir) pasti ada di benak setiap orang. Lalu apa saja yang perlu diperhatikan agar kita cepat naik jabatan? Berikut ulasannya :
1. Upgrade diri
Orang yang tdk mau belajar akan sulit naik. Karena perusahaan bukan hanya butuh kepintaran saja, namun skill dalam bidang tertentu lebih diutamakan karena akan mempengaruhi tingkat produktifitas perusahaan. Belajarlah di bagian lain, selain jobdesc yang sekarang dijalani, tidak ada salahnya jika kita mengetahui pekerjaan rekan kita.
2. Loyal dengan pekerjaan
Seseorang akan merasa sangat terkesan ketika kita melakukan dengan tangan yang enteng dan tidak mengeluh, serta rela apabila sesekali harus overtime. Apalagi atasan kita. Mulailah untuk mengerjakan tugas dan kewajiban dengan tepat pada waktunya dan tepat pada sasaran.
3. Perilaku yang baik
Sebagai seorang karyawan hendaknya kita tahu batasan batasan seorang staf dengan atasannya pada jam kerja. Meskipun atasan anda lebih muda dari anda, maka jangan segan untuk memanggil bapak/ ibu meskipun hanya pada jam kerja saja. Perhatikan dan pelajari kembali etika- etika perusahaan.
4. Supel
Menurut sebagian orang supel adalah sifat seseorang dan tidak bisa dipaksakan. Memang benar, namun sifat supel ini bisa dilatih. Hilangkan rasa takut, minder, malu, dsb.
Mulailah dengan bersama teman terlebih dahulu, maka selanjutnya kita akan nyaman berkomunikasi dengan siapa saja meski baru saja bertemu.
Jadi, apakah anda sudah siap karir anda melejit?
Rabu, 01 Maret 2017
Narasi Dia
Hp ku berbunyi tanda pesan darinya.
Hatiku berdebar.
Aku seperti mendapat pesan pertama dari sang kekasih, atau pesan dari gebetan yang sangat diimpikan menjadi seorang kekasih.
Jangan tanyakan kenapa. Akupun tak tahu jawabannya.
Mungkin, aku jatuh cinta.
Setiap hari aku jatuh cinta kepadanya.
Dia...
Dia yang selalu membuatku tersenyum bahagia.
Dia yang selalu ada waktu untukku.
Dia yang selalu menjagaku, menyayangi, melindungi, dan mengayomi.
Siapa yang tak jatuh cinta jika tampannya selalu membuatku malu untuk menatap matanya.
Akupun tak pernah menatap mata indahnya. Aku tak pernah bisa berani untuk itu.
Tapi dia tak akan membalas cintaku, karena dia hanya mencintai kekasihnya. Aku terlambat.
Dia...
Dia yang selalu membuatku tersenyum bahagia.
Dia yang selalu ada waktu untukku.
Dia yang selalu menjagaku, menyayangi, melindungi, dan mengayomi.
Siapa yang tak jatuh cinta jika tampannya selalu membuatku malu untuk menatap matanya.
Akupun tak pernah menatap mata indahnya. Aku tak pernah bisa berani untuk itu.
Tapi dia tak akan membalas cintaku, karena dia hanya mencintai kekasihnya. Aku terlambat.
Langganan:
Postingan (Atom)




