Aku benar-benar telah melupakanmu.
Hati ini sangat yakin, tidak ada lagi ikatan bahkan tali bekas pun sudah kubuang jauh dari jiwaku.
Terimakasih, telah hadir sebagai sosok yang sempat membuatku menggila tak beralasan. Bahkan, kumpulan puisi yang kutulis itu telah kutinggalkan bersama lapuknya kayu tempat mereka bertengger. Aku yakin, disana masih tertulis jelas namamu dan sajak indah yang setiap hari kugoreskan diatas kertas. Hanya untukmu.
Aku pernah menginginkan keindahan bersamamu. Namun, aku sadar bahwa hati tak dapat diminta. Karena cinta itu dipilih ,bukan memilih. Jadi, sekuat apapun aku memilihmu maka tetap akan ada gadis lain yang engkau pilih.
Tak apa , aku pun selalu menyadari itu.
Aku pernah berdoa di setiap waktu, "pertemukanlah aku dengan dirinya yang selama ini kuinginkan, ya Allah".
Sungguh, derai air mata kerap membanjiri sajadah tempatku bersujud kalau itu. Membasahi mukena yang kupakai sholat setiap waktu. Sampai kelopak mata ini bengkak karena air mata yang terlalu banyak kucucurkan.
Engkau tak pernah mempedulikan itu. Dan setiap sinyalku, pesan singkatku, semuanya kau abaikan. Tak apa, aku pantas mendapatknnya. Aku tak pernah memaksamu. Aku hanya ingin engkau tahu.
Maaf, curahan hatiku memang tak ada gunanya untukmu. Sama sekali tiada manfaat bagimu, tak apa. Asal kau telah membacanya.
5 tahun telah berlalu. Sedikit goresan luka itu masih terasa perih. Bahkan jika kau mulai mengoreknya, mungkin akan berdarah lagi. Mohon, jangan pernah sentuh masalalu yang telah kubuang jauh.
Engkau tidak tahu perjuanganku membuat luka ini kering. Engkau tak tahu bagaimana aku menerima orang lain dalam hatiku. Orang yang menginginkanku.
Aku sadar, cinta itu memang dipilih, bukan memilih.
Mamuju Utara, 27 April 2017
S. Laila syabaniyah

wooow
BalasHapusAhh baru lihat komentar ini saya 😂
HapusMakasih udah mampir