Aku membenci setia.
Tiga kali setia, dan tiga kali dikhianati. Tahukah bagaimana rasanya? Entah... aku pun tidak bisa menjelaskannya. Pandangan kosong dengan mata yang sama sekali tidak bisa bergerak. Sesekali mengeluarkan buliran air mata, tanpa diseka.
Aku benci setia.
Saat berbulan bulan menunggu kabarnya, memimpikan setiap momen indah yang akan kami lalui. Membayangkan betapa bahagianya pada saat bertemu nanti. Setiap hari kutuliskan surat tanda kesetiaan yang tak pernah aku kirim. Aku hanya menuliskan lalu menyimpan dalam lembaran buku yang setiap.hari kian menebal.
Lalu ketika hari datang, aku bertemu dengannya. Tahu bagaimana bahagiaku? Kalau sudah pernah bertemu kekasih setelah LDR pasti tahu persis rasanya. Ingin tersenyum terus, bahagia dan semuanya terasa indah. Tidak ada keluhan!
Perbincanganku dengannya terhenti. Lalu dia menatapku dengan sendu. Aku terhenyak.
"Sayang, aku minta maaf ya."
"Emang kenapa?"
"Aku nggak tega kalau.lihat kamu begini."
Aku hanya terdiam dan semakin kebingungan.
Wajahnya semakin redup dan menunduk. Tangan kanannya meraih rambutku dan membelainya dengan penuh kasih.
Maksudnya apa sih, aku kan nggak punya penyakit apa apa.
"Aku punya pacar lagi."
"Maksud kamu?" Dengan sigap tanganku menyingkirkan lengannya yang kekat itu.
"Maafin aku, tapi aku nggak mau terus terusan bohongi kamu. Aku nggak tega, kamu setia dan tulus sementara aku punya kekasih lagi."
"Kamu becanda kan?"
Lalu dia sodorkan hp nya dan memperlihatkan foto pacarnya yang baru.
Dia bilang, awalnya dia ingin setia bersamaku. Tapi ternyata dia nggak bisa hidup tanpa pacar dan nggak bisa LDR. Pada akhirnya dia memutuskan untuk SELINGKUH.
Malam itu aku menangis sesenggukan hingga pagi. Aku merasa dunia ini telah hancur. Semua yang kukorbankan sia sia. Setia hanya akan membawa luka. Aku tak pernah dapat keindahan dari sebuah kesetiaan. Aku benci setia. aku benci!!!
Mamuju utara, 28 juli 2017
S laila syabaniyah
Jumat, 28 Juli 2017
Sabtu, 08 Juli 2017
Diusik Masa Lalu
Seperti biasanya, banyak notifikasi dari Wa, line, facebook, telegram, ig, email, dan medsos lain. Maklum, belakangan aku aktif di semua medsos dan sering mengikuti kegiatan online yang berbau kepenulisan. Tapi lebih sering nyetatus sih, hehe
Hari itu mataku terbelalak melihat pesan yang tidak diketahui nama pengirimnya. Iya, nomor baru. Penasaran aku membukanya dan membaca dengan hati -hati. Oh, isinya permohonan maaf ala lebaran. Ehemm,maklum masih bau-bau idul fitri. Tapi yang membuatku kaget adalah nama di bawah tulisan. "Furqan "
Lima tahun telah berlalu,namun rasa kecewa mendalam masih dengan santainya bertengger di tangkai hati. Iya, kecewa itu aku buat sendiri. Dia memang tidak pernah bermaksud mengecewakanku, hanya saja sikapnya yang tak bisa menyesuaikan dengan kondisi.
Tapi layaknya artis profesional aku menjawab pesan itu
[30/6 17.44] Laila: Eh mas Furqan,sami2.
Minna waminkum taqobbal yaa kariim
[30/6 17.45] Laila: Kembali ke fitrah, maafkan semua salahku yaa.
Begitu juga salah yang tak disengaja njenengan lakukan, telah aku maafkan 🙏🏼
Woww aku menjadi sok bijak. Tapi memang itu yang harus kulalukan. Memaafkan sesiapapun yang meminta maaf, juga yang salah dan tak meminta maaf. Semua dimaafkan. Karena aku sadar, ketika memaafkan, mata semakin terbuka. Kita jadi lebih menyadari kebenaran yang sesungguhnya.
Aku adalah tipe orang yang suka berterus terang. Tak suka menyembunyikan perasaan, atau basa -basi memberi kode. Aku selalu bilang tak suka jika tak suka. Menyampaikan pendapat jika aku keberatan dengan pendapat orang lain. Selalu nyeplos jika memang ada yang ganjil.
Belum sempat aku mengirim pesan lagi, dia mengetik sesuatu. Kutunggu balasan darinya. Debar jantung memang tak dapat dipungkiri. Aku seperti terpancing akan marah jika dia membahas masalalu yang telah kutinggalkan jauh itu.
Ternyata aku salah. Dia sama sekali tidak berubah. Aku jadi berburuk sangka kepadanya. Jangan-jangan dia hanya ingin terlihat peduli dengan kesalahannya. Semenjak dia curhat tentang bagaimana dia jatuh cinta pada gadis Mataram, aku begitu benci dengan namanya. Oh bukan, aku benci perlakuannya kepadaku. Bagaimana mungkin dia menceritakan perasaannya pada gadis yang jelas -jelas menyukainya sedari dulu.
Memang benar, rasa suka itu seketika hilang! Sirna! Meskipun dia akan berlutut kepadaku, aku takkan mau bersama dengan dia!
Astaga....aku sangat hancur kala itu.
[30/6 18.17] Furqan: Ya alhamdulillah , aq juga sadar bnyak salah meng koe, syukur nek bener" wis aweh maaf
[30/6 18.17] : Maturswun ya , 😁
Ternyata balasannya hanya ini. Jadi aku ingin membuat suasana menjadi cair, meskipun hati sebenarnya sangat beku. Malas dan ingin block nomornya. Tapi itu sangat tidak mencerminkan ketegaran jiwaku.
Kubuat dia tidak merasa bersalah. Dan aku masih merasakan sakit itu.
Kekeliruan memang mudah dimaafkan, tapi hati tak pernah bisa menutup luka dengan sempurna.
Mamuju utara, 08 juli 2017
S laila syabaniyah
Hari itu mataku terbelalak melihat pesan yang tidak diketahui nama pengirimnya. Iya, nomor baru. Penasaran aku membukanya dan membaca dengan hati -hati. Oh, isinya permohonan maaf ala lebaran. Ehemm,maklum masih bau-bau idul fitri. Tapi yang membuatku kaget adalah nama di bawah tulisan. "Furqan "
Lima tahun telah berlalu,namun rasa kecewa mendalam masih dengan santainya bertengger di tangkai hati. Iya, kecewa itu aku buat sendiri. Dia memang tidak pernah bermaksud mengecewakanku, hanya saja sikapnya yang tak bisa menyesuaikan dengan kondisi.
Tapi layaknya artis profesional aku menjawab pesan itu
[30/6 17.44] Laila: Eh mas Furqan,sami2.
Minna waminkum taqobbal yaa kariim
[30/6 17.45] Laila: Kembali ke fitrah, maafkan semua salahku yaa.
Begitu juga salah yang tak disengaja njenengan lakukan, telah aku maafkan 🙏🏼
Woww aku menjadi sok bijak. Tapi memang itu yang harus kulalukan. Memaafkan sesiapapun yang meminta maaf, juga yang salah dan tak meminta maaf. Semua dimaafkan. Karena aku sadar, ketika memaafkan, mata semakin terbuka. Kita jadi lebih menyadari kebenaran yang sesungguhnya.
Aku adalah tipe orang yang suka berterus terang. Tak suka menyembunyikan perasaan, atau basa -basi memberi kode. Aku selalu bilang tak suka jika tak suka. Menyampaikan pendapat jika aku keberatan dengan pendapat orang lain. Selalu nyeplos jika memang ada yang ganjil.
Belum sempat aku mengirim pesan lagi, dia mengetik sesuatu. Kutunggu balasan darinya. Debar jantung memang tak dapat dipungkiri. Aku seperti terpancing akan marah jika dia membahas masalalu yang telah kutinggalkan jauh itu.
Ternyata aku salah. Dia sama sekali tidak berubah. Aku jadi berburuk sangka kepadanya. Jangan-jangan dia hanya ingin terlihat peduli dengan kesalahannya. Semenjak dia curhat tentang bagaimana dia jatuh cinta pada gadis Mataram, aku begitu benci dengan namanya. Oh bukan, aku benci perlakuannya kepadaku. Bagaimana mungkin dia menceritakan perasaannya pada gadis yang jelas -jelas menyukainya sedari dulu.
Memang benar, rasa suka itu seketika hilang! Sirna! Meskipun dia akan berlutut kepadaku, aku takkan mau bersama dengan dia!
Astaga....aku sangat hancur kala itu.
[30/6 18.17] Furqan: Ya alhamdulillah , aq juga sadar bnyak salah meng koe, syukur nek bener" wis aweh maaf
[30/6 18.17] : Maturswun ya , 😁
Ternyata balasannya hanya ini. Jadi aku ingin membuat suasana menjadi cair, meskipun hati sebenarnya sangat beku. Malas dan ingin block nomornya. Tapi itu sangat tidak mencerminkan ketegaran jiwaku.
Kubuat dia tidak merasa bersalah. Dan aku masih merasakan sakit itu.
Kekeliruan memang mudah dimaafkan, tapi hati tak pernah bisa menutup luka dengan sempurna.
Mamuju utara, 08 juli 2017
S laila syabaniyah
Kamis, 08 Juni 2017
Menukar Waktu dengan Uang
(masih) Soal Kerja.
Oleh : S Laila Sya'baniyah
Saya adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan pembiayaan ternama di Indonesia, sebagai staf operasional. Mungkin ada yang paham bagaimana dengan load kerjanya. Berangkat jam 8 pulang jam sore, bahkan kadang bisa sampai malam. Masalah support memang jadi alasan utama mengapa kerjaan itu bisa sampai memakan waktu yang lama.
Waktu yang menyita sebagian hidup kita.
Ketika sampai rumah atau kos, tinggallah rasa lelah dan badan rasanya ingin beristirahat. Padahal harus membereskan barang-barang yang tampak berantakan itu. Orangtua, saudara, dan teman-teman sering menghubungi tapi saya sibuk. Giliran sudah selesai pekerjaan dan pulang, pengennya istirahat.
Teman-teman mulai bilang, kalau saya sombong dan tidak ada waktu untuk mereka. Kabar update di rumah pun mulai jarang di akses. Asal tahu orangtua sehat, saudara sehat, sudah syukur Alhamdulillah. Cukup seperti itu. Dalam hati ingin sekali berbincang lama dengan keluarga, dengan kerabat. Tapi waktu kerja selalu saja jadi masalah utama mengapa saya lebih cuek dengan mereka.
Sementara orangtua, yang melahirkan dan membesarkan sangat berharap saya berada di sampingnya atau setidaknya bisa mendengar setiap kali mereka bercerita tentang keseharian aktivitas di rumah.
Menukar waktu dengan uang.
Mungkin lebih tepatnya seperti itu. Waktu untuk bercengkrama dengan keluarga, waktu jalan-jalan, waktu berbelanja, bahkan kadang waktu istirahat pun saya tukar dengan lembaran-lembaran uang itu.
Terimakasih, perusahaan yang sudah memberikan saya kesempatan untuk belajar dan berkontribusi dengan baik. Terimakasih telah bersedia membeli tenaga dan pikiran saya yang sederhana ini.
Maaf, karena badan saya sesekali lemah mungkin karena istirahat yang saya gunakan untuk menambah support yang diminta itu. Support tuntutan. Waktu yang seharusnya saya gunakan untuk istirahat. Biarlah, itu tidak apa.
Namun, biarkan saya cuti untuk beberapa hari di waktu lebaran nanti bersama keluarga. Bukankah selama ini waktu saya engkau minta untukmu? Engkau memintaku untuk memberikan yang terbaik, dengan cara mencapai target dengan sempurna? Saya telah melakukannya bukan? Saya telah memberikan yang terbaik.
Saya tak ingin menukar waktu indah itu dengan uang lagi. Kebahagiaan bersama keluarga adalah hal yang tidak bisa dibeli. Biarkan saya menolak untuk pertukaran waktu dengan uang kali ini.
Bukankah ini permintaan kecil dibandingkan permintaanmu terhadap waktuku selama ini?
Mamuju Utara, 08 juni 2017
Minggu, 04 Juni 2017
Takut Ditanya Nikah Pas Lebaran, Tips ini Cocok Hadapi Pertanyaan
Lebaran sebantar lagi, sudah pasti bakalan pada mudik kan? Ketemu keluarga besar dan teman lama. Rasanya pasti bahagia banget, bisa bertemu di momen yang setahun sekali. Akan banyak yang bisa diceritakan. Pengalaman selama berpisah dengan mereka dan menjalani hidup yang luar biasa di perantauan.
Dan bagi para jomblo sudah pasti akan dapat peetanyaan yang sama setiap kali bertemu.
"Kapan nikah?"
Aduh, pasti ini suka bikin kesal dong yah. Jadi ingat mantan, atau jadi merasa dipojokkan karena sampai detik ini belum ada tanda-tanda kedatangan jodoh. Aduuh...
Ehmmm tapi saya punya tips untuk menghadapi pertanyaan yang menyeramkan itu:
1. Berikan senyuman termanis yang kamu punya.
Mungkin mereka yang bertanya akan mengerti maksud kita bahwa hilal jodoh belum kelihatan. Atau mereka akan kebingungan dan penasaran dengan jawaban kita. Jangan sesekali marah atau terlihat marah jika pertanyaan itu muncul.
2. Beritahu kalau kamu belum siap
Biasanya orang yang bertanya itu belum tahu kondisi yang ada. Mereka hanya ingin tahu kenapa sampai saat ini kamu belum menikah, padahal kawan sejawat kamu semuanya sudah berkeluarga. Beritahu saja kalau menikah itu membutuhkan kesiapan lahir dan batin agar kelak tidak ada penyesalan dan bahtera rumah tangga bisa diarungi dengan lancar.
3. Tunjukkan persiapan kamu untuk menjemput jodoh
Kebutuhan finansial sebelum menikah tentu berbeda jika nanti sudah berkeluarga. Tentu tingkat kebutuhannya juga berbeda. Berikanlah pengertian seperti itu dan sampaikan bahwa kamu sedang mempersiapkan itu semua untuk masa depan.
4. Mintalah doanya agar dilancarkan
Ketika kita minta didoakan agar dilancarkan, maka yang bertanya akan semakin penasaran dan menganggap kita telah bersiap menuju pelaminan. Maka biarkan mereka beranggapan seperti itu dan bersikaplah cuek seperti biasa.
5. Berdoalah agar diberikan jodoh yang sholeh/sholehah
Berusaha saj tidak cukup. Menghindari pertanyaan juga tidak bisa mendatangkan jodoh. Memang jodoh manusia sudah ada yang mengatur, hanya saja apa yang kita lakukan hari ini akan berdampak pada hasil nanti. Seperti halnya jodoh kita yang nanti akan kita temukan. Katanya, jodoh adalah cerminan diri kita dan kita pun harus memperbaiki diri agar jodoh kita juga nanti sudah menjadi baik.
Berdoalah agar dipertemukan secepatnya. Karena kapan pun itu, pasti adalah yang terbaik.
Jadi jangan takut lagi untuk menghadapi pertanyaan menyeramkan itu. Hadapi saja dengan happy.
S Laila Sya'baniyah
Mamuju utara, 04 juni 2017
Dan bagi para jomblo sudah pasti akan dapat peetanyaan yang sama setiap kali bertemu.
"Kapan nikah?"
Aduh, pasti ini suka bikin kesal dong yah. Jadi ingat mantan, atau jadi merasa dipojokkan karena sampai detik ini belum ada tanda-tanda kedatangan jodoh. Aduuh...
Ehmmm tapi saya punya tips untuk menghadapi pertanyaan yang menyeramkan itu:
1. Berikan senyuman termanis yang kamu punya.
Mungkin mereka yang bertanya akan mengerti maksud kita bahwa hilal jodoh belum kelihatan. Atau mereka akan kebingungan dan penasaran dengan jawaban kita. Jangan sesekali marah atau terlihat marah jika pertanyaan itu muncul.
2. Beritahu kalau kamu belum siap
Biasanya orang yang bertanya itu belum tahu kondisi yang ada. Mereka hanya ingin tahu kenapa sampai saat ini kamu belum menikah, padahal kawan sejawat kamu semuanya sudah berkeluarga. Beritahu saja kalau menikah itu membutuhkan kesiapan lahir dan batin agar kelak tidak ada penyesalan dan bahtera rumah tangga bisa diarungi dengan lancar.
3. Tunjukkan persiapan kamu untuk menjemput jodoh
Kebutuhan finansial sebelum menikah tentu berbeda jika nanti sudah berkeluarga. Tentu tingkat kebutuhannya juga berbeda. Berikanlah pengertian seperti itu dan sampaikan bahwa kamu sedang mempersiapkan itu semua untuk masa depan.
4. Mintalah doanya agar dilancarkan
Ketika kita minta didoakan agar dilancarkan, maka yang bertanya akan semakin penasaran dan menganggap kita telah bersiap menuju pelaminan. Maka biarkan mereka beranggapan seperti itu dan bersikaplah cuek seperti biasa.
5. Berdoalah agar diberikan jodoh yang sholeh/sholehah
Berusaha saj tidak cukup. Menghindari pertanyaan juga tidak bisa mendatangkan jodoh. Memang jodoh manusia sudah ada yang mengatur, hanya saja apa yang kita lakukan hari ini akan berdampak pada hasil nanti. Seperti halnya jodoh kita yang nanti akan kita temukan. Katanya, jodoh adalah cerminan diri kita dan kita pun harus memperbaiki diri agar jodoh kita juga nanti sudah menjadi baik.
Berdoalah agar dipertemukan secepatnya. Karena kapan pun itu, pasti adalah yang terbaik.
Jadi jangan takut lagi untuk menghadapi pertanyaan menyeramkan itu. Hadapi saja dengan happy.
S Laila Sya'baniyah
Mamuju utara, 04 juni 2017
Sabtu, 13 Mei 2017
Memesona Itu Selalu Segar dan Wangi
Sebagai frontliner, saya dituntut untuk selalu tampil cantik, rapi, bersih, segar dan wangi. Bahkan hal ini tercantum dengan sangat jelas di SK perusahaan. Mulai dari warna eyeshadow, warna lipstik, model rambut atau jilbab, warna pakaian yang shoft, semuanya ada di sana.
Benar saja, karena saya setiap hari bahkan setiap saat selalu melayani konsumen. Selain harus bersikap ramah dan sopan, penampilan juga harus mengimbangi dengan cara menyusun dan membentuk diri sendiri menjadi "good looking".
Kesan orang pertama kali pada saat bertemu seseorang adalah ketika melihat penampilannya. Terlebih seorang frontliner di perusahaan pembiayaan ternama di Indonesia seperti saya.
Saya selalu merias wajah agar tampak lebih cantik dan memberikan kesan ceria. Selain itu, mengutamakan senyuman saat bertemu konsumen merupakan hal terpenting dalam pelayanan, agar interaksi menjadi lebih hangat dan menimbulkan efek tagih pada lawan bicara.
Namun ternyata tidak cukup jika hanya mengandalkan cantik dan ramah saja. Harum juga sangat penting untuk memperbaiki perasaan yang kurang baik, juga mampu menimbulkan perasaan bahagia. Dan saya mulai bingung untuk ini. Karena, setiap pagi saya selalu wangi dari aroma handbody lotion masih segar. Namun semakin siang wangi itu semakin pudar.
Kurang menyukai parfum membuat saya sangat selektif dalam memilihnya. Mencari yang cocok dengan aroma yang shoft namun segar ternyata bukan hal yang mudah. Ada beberapa botol parfum berjejer di lemari saya, namun setelah dipakai beberapa kali akhirnya saya merasa bosan dan tidak cocok. Hingga akhirnya saya menemukan Vitalis Body Scent Blossom special admiration.
Sejek memakai Vitalis Body Scent blossom saya merasa lebih percaya diri bertemu dengan siapa saja dan berbicara dengan senang hati. Rasanya lebih bahagia dengan aroma yang tercium dari tubuh saya sendiri. Kini botol parfum ini selalu menemani kemanapun saya pergi.
Karena #MemesonaItu bukan hanya cantik, tapi juga harus wangi.
Pancarkan pesonamu dengan Vitalis Body Scent varian apa saja untuk mencerahkan hari-harimu.
Kamis, 27 April 2017
Kenali Tiga Tanda Kejenuhan Karyawan
Apakah anda seorang atasan? Jika iya, pasti anda menginginkan bawahan anda betah dan bekerja dengan baik atas apa yang menjadi pekerjaannya.
Apa jadinya jika bawahan anda bermalas-malasan dan membuat perusahaan merugi? Sudah tentu, anda adalah orang yang pertama kali dirugikan.
Nah untuk mengetahui akar dari masalah ini, tentu anda harus menggali lebih dalam apa yang sebenarnya membuat itu semua terjadi. Mungkin, bawahan anda jenuh. Atau, merasa tidak cocok dengan jobdesc nya, atau kurang cocok dengan cara bekerja yang anda sampaikan.
Semua ada alasannya, misalnya karena jenuh. Mungkin, bawahan anda sudah bosan dengan pekerjaannya. Semua orang memiliki perasaan ini, termasuk anda dan juga si bawahan. Kenali tanda-tandanya!
1. Pekerjaan Menumpuk
Jika anda lihat tumpukan berkas yang belum dikerjakan, dengan ritme yang tidak begitu Kerap, bisa jadi ini disebabkan karena kejenuhan yang sudah mencapai puncaknya si bawahan. Tanyakan dengan bahasa yang baik, lalu diskusikan langkah selanjutnya agar si bawahan merasa anda memperhatikan kenyamanannya dalam bekerja. Jadilah atasan yang Care terhadap bawahan!
2. Sering Melakukan Kesalahan
Dalam pekerjaan tentu kita tak jarang melakukan kesalahan, baik transaksi ataupun yang lainnya karena hujan error. Biasanya ini terjadi karena kurang pahamnya terhadap sistem yang ada, atau karena kurang konsentrasi saat bekerja.
Namun hal ini bisa juga terjadi karena rasa bosan atau jenuh yang melekat di hati seseorang. Perhatikan untuk hal ini, karena biasanya bawahan segan untuk menyampaikannya. Maka anda sebagai atasan yang baik, berikanlah solusi untuk permasalahannya.
3. Terlihat Malas dan Kusut
Orang yang merasa bosan dengan profesinya, dia akan malas untuk melakukan hal apapun. Bahkan dalam berpenampilan mulai memperlihatkan perubahannya. Biasanya si bawahan menjadi kurang taat. Ketahuilah, ini memang mutlak kesalahan bawahan tapi anda sebagai bosnya, bisa memberikan bimbingan, motivasi serta support yang mereka butuhkan. Bukankah kalian harusnya saling support?
Apa anda sudah mengenali perilaku yang menandakan kejenuhan ini terhadap bawahan?
Apa jadinya jika bawahan anda bermalas-malasan dan membuat perusahaan merugi? Sudah tentu, anda adalah orang yang pertama kali dirugikan.
Nah untuk mengetahui akar dari masalah ini, tentu anda harus menggali lebih dalam apa yang sebenarnya membuat itu semua terjadi. Mungkin, bawahan anda jenuh. Atau, merasa tidak cocok dengan jobdesc nya, atau kurang cocok dengan cara bekerja yang anda sampaikan.
Semua ada alasannya, misalnya karena jenuh. Mungkin, bawahan anda sudah bosan dengan pekerjaannya. Semua orang memiliki perasaan ini, termasuk anda dan juga si bawahan. Kenali tanda-tandanya!
1. Pekerjaan Menumpuk
Jika anda lihat tumpukan berkas yang belum dikerjakan, dengan ritme yang tidak begitu Kerap, bisa jadi ini disebabkan karena kejenuhan yang sudah mencapai puncaknya si bawahan. Tanyakan dengan bahasa yang baik, lalu diskusikan langkah selanjutnya agar si bawahan merasa anda memperhatikan kenyamanannya dalam bekerja. Jadilah atasan yang Care terhadap bawahan!
2. Sering Melakukan Kesalahan
Dalam pekerjaan tentu kita tak jarang melakukan kesalahan, baik transaksi ataupun yang lainnya karena hujan error. Biasanya ini terjadi karena kurang pahamnya terhadap sistem yang ada, atau karena kurang konsentrasi saat bekerja.
Namun hal ini bisa juga terjadi karena rasa bosan atau jenuh yang melekat di hati seseorang. Perhatikan untuk hal ini, karena biasanya bawahan segan untuk menyampaikannya. Maka anda sebagai atasan yang baik, berikanlah solusi untuk permasalahannya.
3. Terlihat Malas dan Kusut
Orang yang merasa bosan dengan profesinya, dia akan malas untuk melakukan hal apapun. Bahkan dalam berpenampilan mulai memperlihatkan perubahannya. Biasanya si bawahan menjadi kurang taat. Ketahuilah, ini memang mutlak kesalahan bawahan tapi anda sebagai bosnya, bisa memberikan bimbingan, motivasi serta support yang mereka butuhkan. Bukankah kalian harusnya saling support?
Apa anda sudah mengenali perilaku yang menandakan kejenuhan ini terhadap bawahan?
Hatiku sudah Bersih dari Semua Tentangmu
Aku benar-benar telah melupakanmu.
Hati ini sangat yakin, tidak ada lagi ikatan bahkan tali bekas pun sudah kubuang jauh dari jiwaku.
Terimakasih, telah hadir sebagai sosok yang sempat membuatku menggila tak beralasan. Bahkan, kumpulan puisi yang kutulis itu telah kutinggalkan bersama lapuknya kayu tempat mereka bertengger. Aku yakin, disana masih tertulis jelas namamu dan sajak indah yang setiap hari kugoreskan diatas kertas. Hanya untukmu.
Aku pernah menginginkan keindahan bersamamu. Namun, aku sadar bahwa hati tak dapat diminta. Karena cinta itu dipilih ,bukan memilih. Jadi, sekuat apapun aku memilihmu maka tetap akan ada gadis lain yang engkau pilih.
Tak apa , aku pun selalu menyadari itu.
Aku pernah berdoa di setiap waktu, "pertemukanlah aku dengan dirinya yang selama ini kuinginkan, ya Allah".
Sungguh, derai air mata kerap membanjiri sajadah tempatku bersujud kalau itu. Membasahi mukena yang kupakai sholat setiap waktu. Sampai kelopak mata ini bengkak karena air mata yang terlalu banyak kucucurkan.
Engkau tak pernah mempedulikan itu. Dan setiap sinyalku, pesan singkatku, semuanya kau abaikan. Tak apa, aku pantas mendapatknnya. Aku tak pernah memaksamu. Aku hanya ingin engkau tahu.
Maaf, curahan hatiku memang tak ada gunanya untukmu. Sama sekali tiada manfaat bagimu, tak apa. Asal kau telah membacanya.
5 tahun telah berlalu. Sedikit goresan luka itu masih terasa perih. Bahkan jika kau mulai mengoreknya, mungkin akan berdarah lagi. Mohon, jangan pernah sentuh masalalu yang telah kubuang jauh.
Engkau tidak tahu perjuanganku membuat luka ini kering. Engkau tak tahu bagaimana aku menerima orang lain dalam hatiku. Orang yang menginginkanku.
Aku sadar, cinta itu memang dipilih, bukan memilih.
Mamuju Utara, 27 April 2017
S. Laila syabaniyah
Hati ini sangat yakin, tidak ada lagi ikatan bahkan tali bekas pun sudah kubuang jauh dari jiwaku.
Terimakasih, telah hadir sebagai sosok yang sempat membuatku menggila tak beralasan. Bahkan, kumpulan puisi yang kutulis itu telah kutinggalkan bersama lapuknya kayu tempat mereka bertengger. Aku yakin, disana masih tertulis jelas namamu dan sajak indah yang setiap hari kugoreskan diatas kertas. Hanya untukmu.
Aku pernah menginginkan keindahan bersamamu. Namun, aku sadar bahwa hati tak dapat diminta. Karena cinta itu dipilih ,bukan memilih. Jadi, sekuat apapun aku memilihmu maka tetap akan ada gadis lain yang engkau pilih.
Tak apa , aku pun selalu menyadari itu.
Aku pernah berdoa di setiap waktu, "pertemukanlah aku dengan dirinya yang selama ini kuinginkan, ya Allah".
Sungguh, derai air mata kerap membanjiri sajadah tempatku bersujud kalau itu. Membasahi mukena yang kupakai sholat setiap waktu. Sampai kelopak mata ini bengkak karena air mata yang terlalu banyak kucucurkan.
Engkau tak pernah mempedulikan itu. Dan setiap sinyalku, pesan singkatku, semuanya kau abaikan. Tak apa, aku pantas mendapatknnya. Aku tak pernah memaksamu. Aku hanya ingin engkau tahu.
Maaf, curahan hatiku memang tak ada gunanya untukmu. Sama sekali tiada manfaat bagimu, tak apa. Asal kau telah membacanya.
5 tahun telah berlalu. Sedikit goresan luka itu masih terasa perih. Bahkan jika kau mulai mengoreknya, mungkin akan berdarah lagi. Mohon, jangan pernah sentuh masalalu yang telah kubuang jauh.
Engkau tidak tahu perjuanganku membuat luka ini kering. Engkau tak tahu bagaimana aku menerima orang lain dalam hatiku. Orang yang menginginkanku.
Aku sadar, cinta itu memang dipilih, bukan memilih.
Mamuju Utara, 27 April 2017
S. Laila syabaniyah
Langganan:
Postingan (Atom)






