Seperti biasanya, banyak notifikasi dari Wa, line, facebook, telegram, ig, email, dan medsos lain. Maklum, belakangan aku aktif di semua medsos dan sering mengikuti kegiatan online yang berbau kepenulisan. Tapi lebih sering nyetatus sih, hehe
Hari itu mataku terbelalak melihat pesan yang tidak diketahui nama pengirimnya. Iya, nomor baru. Penasaran aku membukanya dan membaca dengan hati -hati. Oh, isinya permohonan maaf ala lebaran. Ehemm,maklum masih bau-bau idul fitri. Tapi yang membuatku kaget adalah nama di bawah tulisan. "Furqan "
Lima tahun telah berlalu,namun rasa kecewa mendalam masih dengan santainya bertengger di tangkai hati. Iya, kecewa itu aku buat sendiri. Dia memang tidak pernah bermaksud mengecewakanku, hanya saja sikapnya yang tak bisa menyesuaikan dengan kondisi.
Tapi layaknya artis profesional aku menjawab pesan itu
[30/6 17.44] Laila: Eh mas Furqan,sami2.
Minna waminkum taqobbal yaa kariim
[30/6 17.45] Laila: Kembali ke fitrah, maafkan semua salahku yaa.
Begitu juga salah yang tak disengaja njenengan lakukan, telah aku maafkan 🙏🏼
Woww aku menjadi sok bijak. Tapi memang itu yang harus kulalukan. Memaafkan sesiapapun yang meminta maaf, juga yang salah dan tak meminta maaf. Semua dimaafkan. Karena aku sadar, ketika memaafkan, mata semakin terbuka. Kita jadi lebih menyadari kebenaran yang sesungguhnya.
Aku adalah tipe orang yang suka berterus terang. Tak suka menyembunyikan perasaan, atau basa -basi memberi kode. Aku selalu bilang tak suka jika tak suka. Menyampaikan pendapat jika aku keberatan dengan pendapat orang lain. Selalu nyeplos jika memang ada yang ganjil.
Belum sempat aku mengirim pesan lagi, dia mengetik sesuatu. Kutunggu balasan darinya. Debar jantung memang tak dapat dipungkiri. Aku seperti terpancing akan marah jika dia membahas masalalu yang telah kutinggalkan jauh itu.
Ternyata aku salah. Dia sama sekali tidak berubah. Aku jadi berburuk sangka kepadanya. Jangan-jangan dia hanya ingin terlihat peduli dengan kesalahannya. Semenjak dia curhat tentang bagaimana dia jatuh cinta pada gadis Mataram, aku begitu benci dengan namanya. Oh bukan, aku benci perlakuannya kepadaku. Bagaimana mungkin dia menceritakan perasaannya pada gadis yang jelas -jelas menyukainya sedari dulu.
Memang benar, rasa suka itu seketika hilang! Sirna! Meskipun dia akan berlutut kepadaku, aku takkan mau bersama dengan dia!
Astaga....aku sangat hancur kala itu.
[30/6 18.17] Furqan: Ya alhamdulillah , aq juga sadar bnyak salah meng koe, syukur nek bener" wis aweh maaf
[30/6 18.17] : Maturswun ya , 😁
Ternyata balasannya hanya ini. Jadi aku ingin membuat suasana menjadi cair, meskipun hati sebenarnya sangat beku. Malas dan ingin block nomornya. Tapi itu sangat tidak mencerminkan ketegaran jiwaku.
Kubuat dia tidak merasa bersalah. Dan aku masih merasakan sakit itu.
Kekeliruan memang mudah dimaafkan, tapi hati tak pernah bisa menutup luka dengan sempurna.
Mamuju utara, 08 juli 2017
S laila syabaniyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar