Sabtu, 13 Mei 2017
Memesona Itu Selalu Segar dan Wangi
Sebagai frontliner, saya dituntut untuk selalu tampil cantik, rapi, bersih, segar dan wangi. Bahkan hal ini tercantum dengan sangat jelas di SK perusahaan. Mulai dari warna eyeshadow, warna lipstik, model rambut atau jilbab, warna pakaian yang shoft, semuanya ada di sana.
Benar saja, karena saya setiap hari bahkan setiap saat selalu melayani konsumen. Selain harus bersikap ramah dan sopan, penampilan juga harus mengimbangi dengan cara menyusun dan membentuk diri sendiri menjadi "good looking".
Kesan orang pertama kali pada saat bertemu seseorang adalah ketika melihat penampilannya. Terlebih seorang frontliner di perusahaan pembiayaan ternama di Indonesia seperti saya.
Saya selalu merias wajah agar tampak lebih cantik dan memberikan kesan ceria. Selain itu, mengutamakan senyuman saat bertemu konsumen merupakan hal terpenting dalam pelayanan, agar interaksi menjadi lebih hangat dan menimbulkan efek tagih pada lawan bicara.
Namun ternyata tidak cukup jika hanya mengandalkan cantik dan ramah saja. Harum juga sangat penting untuk memperbaiki perasaan yang kurang baik, juga mampu menimbulkan perasaan bahagia. Dan saya mulai bingung untuk ini. Karena, setiap pagi saya selalu wangi dari aroma handbody lotion masih segar. Namun semakin siang wangi itu semakin pudar.
Kurang menyukai parfum membuat saya sangat selektif dalam memilihnya. Mencari yang cocok dengan aroma yang shoft namun segar ternyata bukan hal yang mudah. Ada beberapa botol parfum berjejer di lemari saya, namun setelah dipakai beberapa kali akhirnya saya merasa bosan dan tidak cocok. Hingga akhirnya saya menemukan Vitalis Body Scent Blossom special admiration.
Sejek memakai Vitalis Body Scent blossom saya merasa lebih percaya diri bertemu dengan siapa saja dan berbicara dengan senang hati. Rasanya lebih bahagia dengan aroma yang tercium dari tubuh saya sendiri. Kini botol parfum ini selalu menemani kemanapun saya pergi.
Karena #MemesonaItu bukan hanya cantik, tapi juga harus wangi.
Pancarkan pesonamu dengan Vitalis Body Scent varian apa saja untuk mencerahkan hari-harimu.
Kamis, 27 April 2017
Kenali Tiga Tanda Kejenuhan Karyawan
Apakah anda seorang atasan? Jika iya, pasti anda menginginkan bawahan anda betah dan bekerja dengan baik atas apa yang menjadi pekerjaannya.
Apa jadinya jika bawahan anda bermalas-malasan dan membuat perusahaan merugi? Sudah tentu, anda adalah orang yang pertama kali dirugikan.
Nah untuk mengetahui akar dari masalah ini, tentu anda harus menggali lebih dalam apa yang sebenarnya membuat itu semua terjadi. Mungkin, bawahan anda jenuh. Atau, merasa tidak cocok dengan jobdesc nya, atau kurang cocok dengan cara bekerja yang anda sampaikan.
Semua ada alasannya, misalnya karena jenuh. Mungkin, bawahan anda sudah bosan dengan pekerjaannya. Semua orang memiliki perasaan ini, termasuk anda dan juga si bawahan. Kenali tanda-tandanya!
1. Pekerjaan Menumpuk
Jika anda lihat tumpukan berkas yang belum dikerjakan, dengan ritme yang tidak begitu Kerap, bisa jadi ini disebabkan karena kejenuhan yang sudah mencapai puncaknya si bawahan. Tanyakan dengan bahasa yang baik, lalu diskusikan langkah selanjutnya agar si bawahan merasa anda memperhatikan kenyamanannya dalam bekerja. Jadilah atasan yang Care terhadap bawahan!
2. Sering Melakukan Kesalahan
Dalam pekerjaan tentu kita tak jarang melakukan kesalahan, baik transaksi ataupun yang lainnya karena hujan error. Biasanya ini terjadi karena kurang pahamnya terhadap sistem yang ada, atau karena kurang konsentrasi saat bekerja.
Namun hal ini bisa juga terjadi karena rasa bosan atau jenuh yang melekat di hati seseorang. Perhatikan untuk hal ini, karena biasanya bawahan segan untuk menyampaikannya. Maka anda sebagai atasan yang baik, berikanlah solusi untuk permasalahannya.
3. Terlihat Malas dan Kusut
Orang yang merasa bosan dengan profesinya, dia akan malas untuk melakukan hal apapun. Bahkan dalam berpenampilan mulai memperlihatkan perubahannya. Biasanya si bawahan menjadi kurang taat. Ketahuilah, ini memang mutlak kesalahan bawahan tapi anda sebagai bosnya, bisa memberikan bimbingan, motivasi serta support yang mereka butuhkan. Bukankah kalian harusnya saling support?
Apa anda sudah mengenali perilaku yang menandakan kejenuhan ini terhadap bawahan?
Apa jadinya jika bawahan anda bermalas-malasan dan membuat perusahaan merugi? Sudah tentu, anda adalah orang yang pertama kali dirugikan.
Nah untuk mengetahui akar dari masalah ini, tentu anda harus menggali lebih dalam apa yang sebenarnya membuat itu semua terjadi. Mungkin, bawahan anda jenuh. Atau, merasa tidak cocok dengan jobdesc nya, atau kurang cocok dengan cara bekerja yang anda sampaikan.
Semua ada alasannya, misalnya karena jenuh. Mungkin, bawahan anda sudah bosan dengan pekerjaannya. Semua orang memiliki perasaan ini, termasuk anda dan juga si bawahan. Kenali tanda-tandanya!
1. Pekerjaan Menumpuk
Jika anda lihat tumpukan berkas yang belum dikerjakan, dengan ritme yang tidak begitu Kerap, bisa jadi ini disebabkan karena kejenuhan yang sudah mencapai puncaknya si bawahan. Tanyakan dengan bahasa yang baik, lalu diskusikan langkah selanjutnya agar si bawahan merasa anda memperhatikan kenyamanannya dalam bekerja. Jadilah atasan yang Care terhadap bawahan!
2. Sering Melakukan Kesalahan
Dalam pekerjaan tentu kita tak jarang melakukan kesalahan, baik transaksi ataupun yang lainnya karena hujan error. Biasanya ini terjadi karena kurang pahamnya terhadap sistem yang ada, atau karena kurang konsentrasi saat bekerja.
Namun hal ini bisa juga terjadi karena rasa bosan atau jenuh yang melekat di hati seseorang. Perhatikan untuk hal ini, karena biasanya bawahan segan untuk menyampaikannya. Maka anda sebagai atasan yang baik, berikanlah solusi untuk permasalahannya.
3. Terlihat Malas dan Kusut
Orang yang merasa bosan dengan profesinya, dia akan malas untuk melakukan hal apapun. Bahkan dalam berpenampilan mulai memperlihatkan perubahannya. Biasanya si bawahan menjadi kurang taat. Ketahuilah, ini memang mutlak kesalahan bawahan tapi anda sebagai bosnya, bisa memberikan bimbingan, motivasi serta support yang mereka butuhkan. Bukankah kalian harusnya saling support?
Apa anda sudah mengenali perilaku yang menandakan kejenuhan ini terhadap bawahan?
Hatiku sudah Bersih dari Semua Tentangmu
Aku benar-benar telah melupakanmu.
Hati ini sangat yakin, tidak ada lagi ikatan bahkan tali bekas pun sudah kubuang jauh dari jiwaku.
Terimakasih, telah hadir sebagai sosok yang sempat membuatku menggila tak beralasan. Bahkan, kumpulan puisi yang kutulis itu telah kutinggalkan bersama lapuknya kayu tempat mereka bertengger. Aku yakin, disana masih tertulis jelas namamu dan sajak indah yang setiap hari kugoreskan diatas kertas. Hanya untukmu.
Aku pernah menginginkan keindahan bersamamu. Namun, aku sadar bahwa hati tak dapat diminta. Karena cinta itu dipilih ,bukan memilih. Jadi, sekuat apapun aku memilihmu maka tetap akan ada gadis lain yang engkau pilih.
Tak apa , aku pun selalu menyadari itu.
Aku pernah berdoa di setiap waktu, "pertemukanlah aku dengan dirinya yang selama ini kuinginkan, ya Allah".
Sungguh, derai air mata kerap membanjiri sajadah tempatku bersujud kalau itu. Membasahi mukena yang kupakai sholat setiap waktu. Sampai kelopak mata ini bengkak karena air mata yang terlalu banyak kucucurkan.
Engkau tak pernah mempedulikan itu. Dan setiap sinyalku, pesan singkatku, semuanya kau abaikan. Tak apa, aku pantas mendapatknnya. Aku tak pernah memaksamu. Aku hanya ingin engkau tahu.
Maaf, curahan hatiku memang tak ada gunanya untukmu. Sama sekali tiada manfaat bagimu, tak apa. Asal kau telah membacanya.
5 tahun telah berlalu. Sedikit goresan luka itu masih terasa perih. Bahkan jika kau mulai mengoreknya, mungkin akan berdarah lagi. Mohon, jangan pernah sentuh masalalu yang telah kubuang jauh.
Engkau tidak tahu perjuanganku membuat luka ini kering. Engkau tak tahu bagaimana aku menerima orang lain dalam hatiku. Orang yang menginginkanku.
Aku sadar, cinta itu memang dipilih, bukan memilih.
Mamuju Utara, 27 April 2017
S. Laila syabaniyah
Hati ini sangat yakin, tidak ada lagi ikatan bahkan tali bekas pun sudah kubuang jauh dari jiwaku.
Terimakasih, telah hadir sebagai sosok yang sempat membuatku menggila tak beralasan. Bahkan, kumpulan puisi yang kutulis itu telah kutinggalkan bersama lapuknya kayu tempat mereka bertengger. Aku yakin, disana masih tertulis jelas namamu dan sajak indah yang setiap hari kugoreskan diatas kertas. Hanya untukmu.
Aku pernah menginginkan keindahan bersamamu. Namun, aku sadar bahwa hati tak dapat diminta. Karena cinta itu dipilih ,bukan memilih. Jadi, sekuat apapun aku memilihmu maka tetap akan ada gadis lain yang engkau pilih.
Tak apa , aku pun selalu menyadari itu.
Aku pernah berdoa di setiap waktu, "pertemukanlah aku dengan dirinya yang selama ini kuinginkan, ya Allah".
Sungguh, derai air mata kerap membanjiri sajadah tempatku bersujud kalau itu. Membasahi mukena yang kupakai sholat setiap waktu. Sampai kelopak mata ini bengkak karena air mata yang terlalu banyak kucucurkan.
Engkau tak pernah mempedulikan itu. Dan setiap sinyalku, pesan singkatku, semuanya kau abaikan. Tak apa, aku pantas mendapatknnya. Aku tak pernah memaksamu. Aku hanya ingin engkau tahu.
Maaf, curahan hatiku memang tak ada gunanya untukmu. Sama sekali tiada manfaat bagimu, tak apa. Asal kau telah membacanya.
5 tahun telah berlalu. Sedikit goresan luka itu masih terasa perih. Bahkan jika kau mulai mengoreknya, mungkin akan berdarah lagi. Mohon, jangan pernah sentuh masalalu yang telah kubuang jauh.
Engkau tidak tahu perjuanganku membuat luka ini kering. Engkau tak tahu bagaimana aku menerima orang lain dalam hatiku. Orang yang menginginkanku.
Aku sadar, cinta itu memang dipilih, bukan memilih.
Mamuju Utara, 27 April 2017
S. Laila syabaniyah
Rabu, 19 April 2017
Ungkapan Hati Perempuan untuk Laki-laki
Aku pikir, ini akan baik-baik saja, ternyata tidak. Akhirnya aku harus menuliskan ini sebagai surat kita (perempuan) untuk mereka (laki-laki)
Ada hal yang tak ingin diucapkan, tapi perlu untuk dimengerti. Mungkin ini salah satu alasan bahwa aku ingin dikatakan sebagai seorang perempuan. Makhluk aneh yang sering menyebalkan bagi sebagian laki-laki. Tapi apa kalian tahu fakta tentang sifat yang sering dianggap menyebalkan dan aneh itu?
Ada hal yang tidak dapat diungkapkan, namun selalu terucap di dalam hati. Ada perasaan yang tidak bisa untuk didefinisikan, tapi sangat terasa di dalam dada. Bahkan ketika tidurnya tak bisa nyenyak, sudah pasti ada sesuatu yang mengganjal di pikiran. Namun sulit sekali untuk menyatakan maksud dan tujuan. Kami ingin laki-laki menanyai dan aktif untuk mencari tahu masalah kami. Bukan diam dan menunggu perempuan mengucapkannya. Karena itu hanya akan menambah kekacauan otak kami.
Dear laki-laki, bisakah engkau mengerti perempuan lebih dalam? Bisakah engkau perlakukan layaknya ratumu? Bukankah engkau tahu bahwa itu semua yang perempuanmu butuhkan?
Maaf, kami selalu datang di waktu yang tidak tepat. Kami mengganggu waktu kerjamu, mengganggu istirahatmu, kami selalu rempong menanyakan ini itu. Kami selalu saja kepo, ingin tahu apa yang engkau kerjakan di luar sana.
Sungguh, kami percaya padamu dengan kesungguhan juga. Tapi, terkadang hati ini berbalik bertanya kembali sesuatu yang sudah engkau jawab. Kami sering mengalami ketidakyakinan dengan dirimu itu. Ketika ada yang berubah sedikit perhatianmu, itu akan menjadi alat kami untuk menggali lebih dalam apa yang sedang terjadi. Karena kami memang sangat peka dengan hal-hal kecil. Banyak hal yang bermasalah bagi kami, tapi sebenarnya menurut kalian itu bukanlah suatu masalah. Jika perempuanmu terlihat baik-baik saja, maka cobalah tanyakan kepadanya, apakah dia sudah menunjukkan aslinya? Sudah tentu, perempuan tidak baik-baik saja sepenuhnya. Ada hati yang terluka jika harus bertampang layaknya tak ada masalah. Asal kalian tahu, kami sering pura-pura tak masalah namun dalam hati kami ingin berontak dan ada yang mengganjal. Tapi lebih memilih untuk diam, dan memunggu waktu menjawab dari peetanyaan kami.
Maafkah kami, ini semua kami lakukan karena kami adalah seorang perempuan asli. Kami dikodratkan untuk lebih peka, aktif, dan lembut seperti engkau lihat saat ini. Kami hanya ingin memastikan bahwa hanya ada "aku" di dalam hidup ataupun hatimu. Hanya itu. Kami hanya ingin memastikan kasih sayangmu yang takkan berubah, takkan berpindah, dan tetap seperti yang kami inginkan. Bukankah kalian juga kadang demikian?
Kami tahu, kalian malu untuk melakukan itu semua dan lebih memilih untuk diam sok cool, dan terkesan dingin di mata perempuan. Kalian gengsi jika harus menanyai "sedang apa?" di waktu senggang kalian, dan kami masih sibuk beraktifitas.
Tahukah kalian, bahwa kami senang dengan adanya notifikasi di hp kami dari orang yang kami sayangi. Kami selalu ada waktu untuk berbagi dan memberi kabar meski padat pekerjaan menghampiri. Kami selalu ada waktu untuk sekedar membalas pesan yang tidak penting itu. Jika kalian itu menganggap tidak penting mungkin ada benarnya juga. Namun ketahuilah, bahwa itu semua penting bagi kami. Karena bukti kasih sayang kami butuhkan setiap saat. Bukan hanya di awal hubungan.
Maafkan kami, namun ini adalah kejujuran. Kami ingin lelaki mengerti dengan fitrah kami sebagai perempuan.
Berikanlah kabar!
Jawablah pertanyaannya!
Balaslah pesan singkatnya!
Berikan sedikit basa-basi, dengan menanyakan makan siang, atau sekedar bercerita tentang aktifitas harianmu!
Ungkapkanlah dengan kata-kata sayang, ungkapan rindu, atau angan-angan kalian dalam menjalin hubungan!
Yakinkan perempuanmu. Bukankah kalian menginginkan kebahagiaan perempuanmu juga?
Selasa, 04 April 2017
Melawan Maut Episode 06
Perjalanan ke kos terasa sangat jauh. Di dalam mobil Mas Fulan terus memegangi perutnya, mungkin dia lapar namun aku tak menghiraukannya. Mulutku bungkam tak ingin bicara. Di kepala hanya ada tanda tanya besar.
"Siapa sebenarnya perempuan itu?"
Tak sampai lima belas menit, mobil berhenti di depan bangunan yang setiap hari kutinggali. Tembok yang warnanya mulai pudar itu melambaikan dirinya dan mengundangku untuk segera masuk ke dalam. Tanpa berkata-kta aku keluar dari mobil dan masuk ke dalam kos itu, sementara Mas Fulan parkir mobil baru hadiah ulang tahun dari ayahnya itu di seberang jalan. Maklum, halaman kos terlalu sempit untuk parkir mobil. Setelah parkir, Mas Fulan langsung menyusulku dan dia menungguku di ruang depan dengan melipat-lipat jemari tangannya. Sungguh, dia ini seperti tidak memiliki kesedihan.
"Mandinya jangan kelamaan, di rumah banyak kerjaan!"
Aku tak menyahutnya, hanya bergegas ke kamar mandi dan sepuluh menit sudah keluar dengan penampilan yang berbeda.
Berjilbab!
"Kamu gak laper? Tuh aku ada makanan. Daripada di jalan kenapa-kenapa."
"Gak usah!"
Dia langsung beranjak keluar dan masuk ke mobil tanda buru-buru. Aku mengikuti langkahnya dan semakin bingung dengan kalimat yang ingin aku ucapkan.
"Kamu itu tuan rumah, bukan tamu. Jadi kamu harus tahu apa yang harus dilakukan oleh tuan rumah dalam keadaan duka."
"Iya, aku ngerti."
Dia memang lebih suka jika aku dekat dengan keluarganya dan ikut sibuk ketika di rumahnya sedang ada acara.
"Mas, aku mau tanya."
"Ya udah, tanya aja. Pake ijin segala!"
Tanganku dingin sampai di ubun-ubun. Jantungku berdegup kencang karena takut pertanyaanku akan jadi petaka.
"Yang tadi pagi kita tabrak itu Mas kenal? Kok dia tadi sama Riza?"
"Iya, dia itu temenku yang baru datang dari Semarang. Dulu waktu masih SMP dia di sini, nah trus mamanya nikah lagi sama orang lain dan kabur ke Semarang, akhirnya dia ikut sama mamanya."
"Kok deket gitu sama Riza?"
"Ya kan emang kenal."
Percakapan hanya sampai disitu. Tapi hati ini masih sangat ingin tahu dengan keadaan yang sebenarnya. Aku yakin banget, ini bukan hanya sekedar teman.
Status kami yang sudah tunangan dan hadirnya perempuan itu membuatku semakin bingung dan ragu.
"Jangan-jangan mereka ada hubungan khusus."
Pikiranku terus tertuju padanya. Aku ingin sekali bertanya langsung kepadanya tanpa melalui Mas Fulan. Aku seperti kehilangan kepercayaan kepadanya.
Akhirnya sampai juga di rumah duka.
Terlihat depan rumahnya masih terpasang tenda dengan bendera putih kecil tertancap di sudut kiri rumah. Kursi-kursi plastik masih tertata sedemikian rupa. Namun orang-orangnya sibuk dengan persiapan tahlilan malam pertama. Mas Fulan segera masuk dan bersihkan badannya. Sementara aku menuju kamar untuk memeriksa keadaan mamanya Mas Fulan.
"Assalamualaykum"
"Waalaykumussalam!"
Jantungku seakan berhenti berdetak. Perempuan yang kucurigai telah bersama dengan ibu calon mertuaku. Tak dapat dipungkiri, aku sangat cemburu.
Ada tiga perempuan yang duduk berjejer di atas ranjang dengan kaki selonjoran.
"Sini nak!"
"Iya tante, maaf tadi saya pulang mandi soalnya gak bawa baju ganti"
'Iya gak papa, trus mana Fulan? Suruh dia makan dulu karena dari pagi belum sentuh makanan."
"Iya tante, tadi saya bilang makan di kos saya aja tapi dia bilang gak usah."
Sepertinya rasa sedih itu sudah mulai menguap. Aku semakin cemburu, itu artinya perempuan itu pandai menghibur calon mertuaku ini.
Tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Hidung kananku terasa dingin dan saat kuusap, aku mimisan lagi.
"Astaghfirullah, kak, mimisan!"
Riza meraihku dan mengambilkan tissue untuk menyeka. Badanku semakin lemas dan gelap.
****
Saat bangun, terdengar suara banyak orang yang sedang membaca surat yaasiin. Aku langsung tersadar dan bangun dari tempat tidur. Riza menemaniku sambil mengikuti yang dibacakan jamaah di ruang utama. Ketika dia tahu aku sadar, dia langsung berusaha membantuku duduk kembali.
"Kak, jangan dulu bangun!"
Benar saja, lemasnya badanku membuatku tidak mampu untuk bangun lagi.
Riza tidak tahu tentang kanker ini. Aku mulai merencanakan hal lain lagi untuk keluar dari kehidupan mereka. Tapii rasanya sangat sulit. Apalagi dalam keadaan masih berduka seperti ini.
Di sisi lain aku merasa sangat terganggu dengan kehadiran perempuan yang baru saja aku temui itu.
"Siapa sebenarnya perempuan itu?"
Tak sampai lima belas menit, mobil berhenti di depan bangunan yang setiap hari kutinggali. Tembok yang warnanya mulai pudar itu melambaikan dirinya dan mengundangku untuk segera masuk ke dalam. Tanpa berkata-kta aku keluar dari mobil dan masuk ke dalam kos itu, sementara Mas Fulan parkir mobil baru hadiah ulang tahun dari ayahnya itu di seberang jalan. Maklum, halaman kos terlalu sempit untuk parkir mobil. Setelah parkir, Mas Fulan langsung menyusulku dan dia menungguku di ruang depan dengan melipat-lipat jemari tangannya. Sungguh, dia ini seperti tidak memiliki kesedihan.
"Mandinya jangan kelamaan, di rumah banyak kerjaan!"
Aku tak menyahutnya, hanya bergegas ke kamar mandi dan sepuluh menit sudah keluar dengan penampilan yang berbeda.
Berjilbab!
"Kamu gak laper? Tuh aku ada makanan. Daripada di jalan kenapa-kenapa."
"Gak usah!"
Dia langsung beranjak keluar dan masuk ke mobil tanda buru-buru. Aku mengikuti langkahnya dan semakin bingung dengan kalimat yang ingin aku ucapkan.
"Kamu itu tuan rumah, bukan tamu. Jadi kamu harus tahu apa yang harus dilakukan oleh tuan rumah dalam keadaan duka."
"Iya, aku ngerti."
Dia memang lebih suka jika aku dekat dengan keluarganya dan ikut sibuk ketika di rumahnya sedang ada acara.
"Mas, aku mau tanya."
"Ya udah, tanya aja. Pake ijin segala!"
Tanganku dingin sampai di ubun-ubun. Jantungku berdegup kencang karena takut pertanyaanku akan jadi petaka.
"Yang tadi pagi kita tabrak itu Mas kenal? Kok dia tadi sama Riza?"
"Iya, dia itu temenku yang baru datang dari Semarang. Dulu waktu masih SMP dia di sini, nah trus mamanya nikah lagi sama orang lain dan kabur ke Semarang, akhirnya dia ikut sama mamanya."
"Kok deket gitu sama Riza?"
"Ya kan emang kenal."
Percakapan hanya sampai disitu. Tapi hati ini masih sangat ingin tahu dengan keadaan yang sebenarnya. Aku yakin banget, ini bukan hanya sekedar teman.
Status kami yang sudah tunangan dan hadirnya perempuan itu membuatku semakin bingung dan ragu.
"Jangan-jangan mereka ada hubungan khusus."
Pikiranku terus tertuju padanya. Aku ingin sekali bertanya langsung kepadanya tanpa melalui Mas Fulan. Aku seperti kehilangan kepercayaan kepadanya.
Akhirnya sampai juga di rumah duka.
Terlihat depan rumahnya masih terpasang tenda dengan bendera putih kecil tertancap di sudut kiri rumah. Kursi-kursi plastik masih tertata sedemikian rupa. Namun orang-orangnya sibuk dengan persiapan tahlilan malam pertama. Mas Fulan segera masuk dan bersihkan badannya. Sementara aku menuju kamar untuk memeriksa keadaan mamanya Mas Fulan.
"Assalamualaykum"
"Waalaykumussalam!"
Jantungku seakan berhenti berdetak. Perempuan yang kucurigai telah bersama dengan ibu calon mertuaku. Tak dapat dipungkiri, aku sangat cemburu.
Ada tiga perempuan yang duduk berjejer di atas ranjang dengan kaki selonjoran.
"Sini nak!"
"Iya tante, maaf tadi saya pulang mandi soalnya gak bawa baju ganti"
'Iya gak papa, trus mana Fulan? Suruh dia makan dulu karena dari pagi belum sentuh makanan."
"Iya tante, tadi saya bilang makan di kos saya aja tapi dia bilang gak usah."
Sepertinya rasa sedih itu sudah mulai menguap. Aku semakin cemburu, itu artinya perempuan itu pandai menghibur calon mertuaku ini.
Tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Hidung kananku terasa dingin dan saat kuusap, aku mimisan lagi.
"Astaghfirullah, kak, mimisan!"
Riza meraihku dan mengambilkan tissue untuk menyeka. Badanku semakin lemas dan gelap.
****
Saat bangun, terdengar suara banyak orang yang sedang membaca surat yaasiin. Aku langsung tersadar dan bangun dari tempat tidur. Riza menemaniku sambil mengikuti yang dibacakan jamaah di ruang utama. Ketika dia tahu aku sadar, dia langsung berusaha membantuku duduk kembali.
"Kak, jangan dulu bangun!"
Benar saja, lemasnya badanku membuatku tidak mampu untuk bangun lagi.
Riza tidak tahu tentang kanker ini. Aku mulai merencanakan hal lain lagi untuk keluar dari kehidupan mereka. Tapii rasanya sangat sulit. Apalagi dalam keadaan masih berduka seperti ini.
Di sisi lain aku merasa sangat terganggu dengan kehadiran perempuan yang baru saja aku temui itu.
Tips Jitu agar Hubungan LDR Tetap Awet
Ketika
hubungan jarak jauh menjadi tantangan untuk pasangan sejoli, sudah pasti banyak
cobaan yang akan datang. Dan tentunya hal ini bukanlah hal yang mudah untuk
dilakukan, namun untuk menjaga hubungan, kita perlu berusaha mempertahankannya.
Berikut ini adalah cara jitu agar hubungan anda dengan doi tetap awet meski
LDR.
1.
Jangan
ragu untuk hubungi terlebih dahulu
Dalam hungungan
jarak jauh tak jarang membuat salah satu atau keduanya merasa canggung untuk
menghubungi terlebih dahulu. Terutama si perempuan. Apalagi jika salah seorang
dalam keadaan sibuk. Awalnya hal itu akan menjadi alasan mengapa tidak menghubungi
terlebih dulu. Kemudian alasan lupa karena lelah dengan kesibukan, akan menjadi
andalan selanjutnya, lalu semakin canggung dan akhirnya loss kontak. Dan
apabila mulai bertemu kembali maka hati akan terasa berbeda, bahkkan bisa-bisa
perasan menjadi hilang sama sekali.
So, jangan ragu
untuk menelepon atau chat duluan. Hal itu tidak akan menjatuhkan harga diri kita
sebagai manusia biasa. Belajarlah jadi orang jujur dan apa adanya, jangan
menutup-nutupi perasaan yang berkecamuk atau menyiksa diri sendiri.
Karena
terkadang, laki-laki memiliki perasaan yang sama dengan perempuan yaitu
“gengsi”.
Maka sebisa
mungkin hindari dan tinggalkan kegengsian itu.
2.
Menjaga
kepercayaan dengan baik
Kepercayaan adalah
sesuatu yang mahal. Ketika kita mendapatkannya, lalu menyia-nyiakan maka
bersiaplah terima kenyataan bahwa tidak akan diberikan lagi kepercayaan yang
pernah kita dapatkan itu.
Ketika kita
menemui seseorang yang lebih baik dari pasangan, kadang kita tergoda untuk
berpaling dan lebih memilih yang baru. Apalagi jika target juga menyukai kita.
Akhirnya khianat tidak bisa dihindarkan.
Jika mulai
terdeteksi tanda-tanda saling menyukai antara dirimu dan dirinya, segeralah
move dari kedekatan yang terjalin itu. Jangan sampai hal itu bisa memutuskan
hubungan antara kamu dengan si doi. Hargailah pasanganmu meskipun ia tak
mengawasi.
3.
Mengikuti
kegiatan yang positif
Waktu akan terasa
sangat membosankan ketika kesibukan telah habis. Keadaan ini memicu seseorang untuk mencari
pasangan pengganti untuk mengisi waktu luang. Sebaiknya ganti hal tersebut
dengan mengikuti kegiatan yang bermanfaat, misalnya klub sepakbola, komunitas
menulis, atau bisa juga digunakan untuk berbisnis sampingan. Jadi, waktu tidak
akan terbuang sia-sia.
4.
Bicarakan
masa depan
Jangan ragu
untuk membicarakan tentang rencana masa depan kalian. Pikirkan dan diskusikan
kemana hubungan itu akan dibawa. Tanyakan kepada pasangan tentang pendapatnya.
Hal ini akan memperkuat hubungan, karena masing-masing memiliki rencana yang
jelas.
Jadi, apakah
kalian sudah melakukan hal ini demi awetnya hubungan jarak jauh?
Jumat, 31 Maret 2017
Hari ini Pelajaran Character Building
selamat malam sahabat :)
Entah mimpi apa tadi malam.
Rasanya hari ini agak berbeda dengan hari lain.
Today is End of Month.
Tahu lah ya, pekerjaan saya sudah dipastikan lebih banyak dari biasanya dan dengan waktu yang lebih panjang. Waktu berakhir di pukul 21:00 WITA.
Aktifitas kerja berjalan seperti biasanya dan alhamdulillah berjalan sebagaimana mestinya.
Menjelang jam sembilan, disaat ada inputan yang harus direversal karena kolektor salah input, dan kami sedang sibuk hitung uang (opname), tiba-tiba terdengar suara ribut dari luar kantor. Sepertinya ada sesuatu yang gak beres.
"Ahh mungkin emang anak-anak lagi pada canddaan", pikirku.
Kemudian ada orang yang masuk ke dalam kantor, nunjuk-nunjuk teman saya dan membabibuta. Dia berusaha memukul namun untungnya tidak kena sampai luka. Teman saya hanya diam dan berusaha menghindar, sementara teman-teman yang ada di dalam mulai keluar untuk melihat situasi dan bersiap untuk mendinginkan suasana.
Ada sekitar sepuluh orang yang berusaha masuk kantor, namun ada salah seorang yang menahan mereka pas dipintunya. Dari luar kantor mereka teriak-teriak, dalam bahasa Indonesianya, ada yang bilang katanya "bunuh saja". Ada yang bilang "ini koperasi apa?". Entahlah pendengaran saya tiba-tiba tidak berfungsi dengan baik. Badan gemetar dan jantung terasa mau copot.
Jangan-jangan ini konsumen yang marah-marah karena tagihannya kolektor, atau ada yang ditarik unitnya?
"Astaghfirullahal'adziim".
Sungguh, baru kali ini saya dapat tragedi yang sangat memacu adrenalin. Kaget bercampur takut.
Ada salah seorang dengan badan kekar tinggi besar, rambutnya gondrong seperti Agung Hercules dengan tangtop warna hitam. Orang ini nampaknya lebih agak dewasa dan ada niatan untuk berdamai karena masalah sepele ini.
Namun dari belakang ada seseorang yang saya pun agak lupa untuk bentuk wajah dan warna bajunya. Yang jelas badannya tinggi besar kekar dengan suara lantang yang menggelegar. Mungkin dengan bersinnya saja badanku langsung jatuh tersungkur.
Perkara mereka membawa senjata tajam atau tidak, saya tidak tahu sama sekali. Namun rombongan ini sepertinya sangat marah. Aku masih dalam keadaan kaget, takut dam juga bingung.
Memang mereka dalam keadaan mabuk. Pikirannya pendek. Namun tetap saja, ini berhubungan erat dengan yang namanya moral.
Kami dari kantor berjumlah sekitar 20 orang . Namun apabila itu harus terjadi perkelahian jelas kami akan rata tiga bintang (***).
Jujur saya sangat takut.
Belum lama ini ada kejadian pembunuhan depan mess dengan cara dipukul kepalanya hingga pecah, dan itu bukan di tempat yang sepi. Sungguh, banyak mata yang menjadi saksi.
Belum cukup satu bulan juga ada kejadian pembunuhan lagi dekat kampung ini. Pelaku adalah mantan suami dengan cara dicabik menggunakan parang dengan laras yang tajam hingga tangan korban putus dan beberapa bagian tubuh yang terbelah, sadis sekali!. Kejadian ini juga bukan tanpa saksi.Pasalnya ada beberapa orang yang melihatnya namun tidak bisa menolong karena larinya parang ke badan korban lebih cepat dari usaha warga untuk mencegah perbuatan itu.
Ini menunjukkan bahwa memang mereka seperti tidak ada rasa takut, sekalipun dengan hukum ataupun Tuhannya.
Rasanya saya ingin menjadi pahlawan.
Ingin menghentikan segala bentuk kekerasan bahkan pembunuhan seperti ini. Katanya, mereka ini sangat anti dengan "malu". Lebih baik mati membela nama baik daripada harus menanggung rasa malu.
Oh My God!
Saya rasa ini bukan masalah adat, budaya, daerah atau apapun.
Ini hanya kekurangan materi dan juga tenaga untuk mendidik character building alias pembangunan karakter, dalam artian budi pekerti yang luhur.
Betapa tidak, masalah ini hanya terjadi karena salah paham kata-kata dibarengi dengan orang yang sedang mabuk, lalu kebetulan yang ada didalamnya adalah orang yang berpengaruh dan memiliki rasa malu yang tinggi. Hanya main nunjuk-nunjuk, marah, kok ya harus bawa bala tentara gitu? Apakah tidak bisa memaafkan dan bersabar saja. Toh kalau bertengkar dan akan menimbulkan korban, nama daerah akan tercemar, membuahkan dosa dan membuat hati semakin gelisah karena terus mencari kepuasan.
Semoga lekas damai dalam artian yang sesungguhnya, jangan ada dendam, karena tidak ada dendam yang tak terhapuskan!
Next, akan saya ceritakan bagaimana magic itu berfungsi di daerah ini.
Mamuju Utara, 310317
S. Laila Syabaniyah
Langganan:
Postingan (Atom)





