Aku seorang perempuan. Meskipun belum menjadi wanita seutuhnya yang memiliki pemimpin pribadi dan prajurit yang siap kuajari untuk hidup hebat namun sederhana, sedikitnya aku mulai belajar untuk mengontrol dan membawa diri disetiap hari meskipun kegagalan sering bertahta disini. Aku kadang takut gagal menjalani hidup. Aku takut gagal menjadi pribadi yang baik, aku takut menjadi orang jahat. Pasalnya apa yang aku lakukan menurutku benar belum tentu benar apalagi untuk disukai orang lain. Ada pepatah yang mengatakan kalau kita seharusnya tidak perlu menghiraukan apa yang dikatakan orang lain, mestinya lakukan saja yang terbaik, toh apa yang kita lakukan akan kembali ke diri kitang masing- masing.
Hmmm, aku jadi canggung untuk melanjutkan kalimat lagi. Pasalnya aku tentunya bisa mempertanggungjawabkan apa yang aku sampaikan. Aku takut menjadi munafik karena apa yang aku katakan tidak sejalan dengan keadaan. Tapii, ah itu hanya akan menghalangiku untuk bicara. Sedangkan menukis adalah bicara juga, bicara yang tidak hanya akan didengar oleh satu orang saja.
Maaf, ceritaku jadi kemana- mana.
Namaku Sugiyati Laila Syabaniyah, saat ini usiaku 21 tahun dan tengah bekerja di salah satu pembiayaan ternama di Indonesia sebagai seorang kasir.
Sebagai karyawati yang terbilang muda dengan modal Ijazah SMA di daerah yang lumayan jauh dari tempat tinggal bukan hal yang mudah dijalani.
Cilacap-Pasangkayu bukan jarak yang dekat yang bisa ditempuh dengan waktu yang sebentar dan tentunya dengan biaya yang sedikit. Gaji satu bulan hanya bisa untuk membeli tiket pesawat dan akomodasi selama perjalanan. Itu adalah salah satu alasanku mengapa aku harus berlari lebih cepat, mata terjaga yang lebih lama, berusaha dengan lebih serius, karena keberhsilan membutuhkan perjungan.
Memang benar, uang bukan segalanya, kebahagiaan tidak bisa diukur dari seberapa banyak uang yang kita miliki. Namun bagi segelintir orang yang terbiasa hidup susah, sesaat akan sangat berharga uang yang kita dapatkan apalagi dari jerih payah sendiri.
Sebenarnya kalau dipikir, gaji yang kudapatkan tidak seperti yang aku harapkan karena di sekitaran Cilacap pun aku masih bisa mendapatkan materi seperti yang aku dapatkan sekarang disini.
Namun kadang cinta mengalahkan segalanya. Ya, aku cinta.
Saat ini hanya doa orangtua dan saudara yang aku harapkan, semoga kebaikan terus mengalir diantara langkah kita. Aku yakin,hasil tidak akan pernah membohongi proses. Dan aku sangat menikmati proses ini. Aku cinta.
Pasangkayu, 22 Mei 2016
Salam
Laila
Tidak ada komentar:
Posting Komentar